Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 14 June 2016 Read More →

Degradasi Mental di Era Globalisasi

Revolusi-Mental

Oleh : Baqi Maulana Rizqi
(Ketua Umum HMI Bumiayu)

Percuma membangun Fisik tanpa membangun Pola Pikir Masyarakat
Ir. H. Jokowi Widodo

Suatu penurunan mental yang dahsyat, Akhir-akhir ini kita dikejutkan di media cetak maupun Online dengan berbagai kasus negatif yang menandakan Degradasi Mental dimana pelakunya adalah warga Indonesia sendiri.

Kasus Degradasi Mental mulai dari Kasus Pedofilia, Pelecehan dan Kekersan Seksual, Kabar Burung Kebangkitan PKI, Kasus Pembongkaran Paksa Pedagang Warteg yang buka siang hari dibulan Ramadhan, Penculikan Abg lewat Sosial Media, Portitusi Online dan kasus yang menggambarkan buruknya mental pejabat dan rakyatnya.

Lantas melihat kondisi yang seperti ini tanggungjawab siapa? Lalu siapa yang dengan telaten mau membenahi dan memperbaiki kondisi yang ada, apakah tanggungjawab pemerintahnya atau rakyatnya? Dengan pertanyaan semacam ini diharapkan semuanya memahami bahwa ini adalah tanggungjawab bersama untuk memperbaiki dan membenahinya.

Melihat Sejarah Ir Soekarno juga membahas tenatng degradasi mental yakni gagasan Revolusi Mental, sebelum mengulas esensi revolusi mental kita perlu mengenal sosial historis yang melahirkan gagasan Bung Karno tersebut.

Gagasan revolusi mental mulai digemborkan Bung Karno pada pertengahan tahun 1950-an yakni tahun 1957 pada waktu itu Revolusi Nasional sedang mandek, padahal tujuan dari revolusi mental belum tercapai, berikut faktor-faktor yang menghambat revolusi itu mandek,

Pertama terjadinya penurunan semangat dan jiwa revolusioner para pelaku revolusi baik rakyat maupun pemimpin Nasional.

Kedua banyak pemimpin politik Indonesia yang masih mengidap penyakit mental warisan kolonial. Penyakit mental ini mencegah para pemimpin mengabil sikap progresif dan tindakan Revolusioner dalam rangka menuntaskan revolusi Nasional sementara dikalangan rakyat Indonesia kondisi mentalitas yang mudah menerima dan kehilangan kepercayaan diri.

Ketiga terjadinya penyelewengan-penyelewengan dibidang ekonomi, politik dan kebudayaan, penyelewengan-penyelewengan tersebut dipicu oleh penyakit mental rendah diri dan tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri.

Esesnsi dari revolusi mental yang digagasan Bung Karno adalah perombakan cara berfikir, cara kerja/berjuang dan cara hidup agar selaras dengan semnagat kemajuan dan tututan revolusi Nasional.

Mental atau mentalitas adalah cara berfikir atau kemampuan untuk berfikir, belajar dan merespons terhadap suatu situasi atau kondisi, mentalitas atau mental dapat diartikan pikiran, istilah mentalitas adalah istilah sehari-hari dan biasanya diartikan sebgai keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa manusia dalam hal menanggapi lingkungan.

Lucian febvre menjadi pelopor sejarah mentalitas karena mengemukakan pendapatnya tentang Spirit Of The Time atau mental Habits atau mental Equipment.

Sejak tanggal 17 agustus 1957 pemerintahan Soekarno melancarkan sejumlah aksi, yakni hidup sederhana, gerakan kebersihan/kesehatan, gerakan pemberantasan buta huruf, gerakan memassalkan gotong royong, gerakan mendisiplinkan dan mengefisienkan perusahaan dan jawatan negara, gerakan pembangunan rohani melalui kegiatan keagmaan dan penguatan kewaspadaan nasional.

“Ia adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemaun baja, bersemnagt elang rajawali, berjiwa api yang menyalaa-nyala
Ir soekarno.

Degradasi mental harus segera ditutupi dari berbagai aspek mulai dari petinggi negara, rakyat serta menciptakan suasana bangsa yang berkepribadian luhur dan bermartabat tinggi. (*)

Posted in: Opini