Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 20 September 2016 Read More →

PR berat Bupati Brebes 2017 – 2022, untuk Brebes Sejahtera ……!!!

lambang-brebes

Sudut kota Brebes

Supriyadi, S.Si, MTP

( Perencana Madya pada Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Mantan Koordinator Nasional KPMDB se Jawa Bali )

Kabupaten Brebes sebagaimana diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah tahun 2009-2029, merupakan bagian dari sistem wilayah Bregasmalang yang mencakup Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Slawi (Kabupaten Tegal), dan Kabupaten Pemalang, dengan fungsi pengembangan sebagai Pusat Pelayanan Lokal, Provinsi dan Nasional.

Sesuai dengan RTRW Kabupaten Brebes tahun 2010-2030 Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Kabupaten Brebes terbagi menjadi tiga.

Pertama, Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Utara terdiri dari Kec. Brebes, Kec. Wanasari, Kec. Bulakamba, Kec. Tanjung, dan Kec. Losari, dengan pusat SWP Utara adalah Perkotaan Brebes.

Kedua, Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Tengah terdiri atas Kec. Jatibarang, Kec.Songgom, Kec. Larangan, Kec. Ketanggungan, Kec. Kersana, dan Kec. Banjarharjo,dengan pusat dari SWP Tengah adalah Perkotaan Ketanggungan.

Ketiga, Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Selatan terdiri atas Kec. Tonjong, Kec. Bumiayu, Kec.Sirampog, Kec. Paguyangan, Kec. Bantarkawung, dan Kec. Salem, dengan pusat dari SWP Selatan adalah Perkotaan Bumiayu.

Kabupaten Brebes boleh disebut kabupaten paling lengkap punya potensi baik sumberdaya alam maupun sumber daya manusia.

Hampir semua dipunyai oleh Kabupaten Brebes seperti (1) laut dengan garis pantai sekitar 65,48 km, dengan salah satu peruntukan perikanan,hutan mangrove dan pariwisata (2) hutan produksi yang terbentang di wilayah tengah dan selatan.

(3) perkebunan dan peternakan (4) lahan yang subur untuk pertanian lahan basah dengan perairan teknis, (5) pertambangan dan industri (6) berbagai obyek wisata baik alam maupun buatan serta religi semua ada di Brebes.

Begitu juga yang terkait dengan saran pemberdayaan sumberdaya manusia seperti pesantren yang sudah terkenal di kawasan regional dan berdirinya berbagai perguruan tinggi seperti Universitas di Bumiayu seperti Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Universitas di Kota Brebes Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) dan berbagai sekolah tinggi lainnya.

Disamping itu yang tak kalah penting adalah bahwa Brebes sudah mempunya produk unggulan yang sudah terkenal di kawasan nusantara dan manca negara seperti bawang merah dan telor asin.

Brebes dan permasalahannya

Namun di balik potensi yang luar biasa itu ternyata menyimpan sebuah persoalan yang cukup pelik dan susah dipecahkan selama dua dekade ini. Beberapa persoalan tersebut antara lain (1) angka kemiskinan yang masih di atas 20 persen dan merupakan kabupaten yang masuk dengan angka kemiskinan tertinggi di Jawa Tengah.

(2) Nilai IPM yang masih menempati nomor 35 dari seluruh kabupaten di Jawa Tengah, (3) tingkat pengangguran yang masih tinggi, (4) angka kematian ibu juga masih tertinggi di provinsi Jawa Tengah (5) iklim investasi yang belum kondusif ini terlihat dari berbagai persoalan yang menyangkut IMB,

(6) penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) yang belum optimal, (7) kerusakan lingkungan akibat penggunaan obat pestisida yang berlebihan dan banyaknya daerah rawan bencana, (8) keterbasan kondisi sarana dan prasarana infrastuktur
Salah satu tujuan akhir dari pelaksanaan otonomi daerah adalah memajukan perekonomian daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2008 dijelaskan bahwa parameter keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dapat diukur berdasarkan indikator berupa Index Pembangunan Manusia (IPM).

Kalau kita melihat target pencapaian IPM yang tertuang di dalam dokumen RPJMD 2012 – 2017 maka pada tahun 2015 sebesar 71, 9.

Namun demikian ternyata berdasarkan data BPS Propinsi Jawa Tengah pencapaian IPM Kabupaten Brebes pada tahun 2015 baru mencapai 63,18 jadi masih jauh dari target yang dicanangkan. Target kemiskinan pada tahun 2015 17,5-18,5 namun demikian ternyata pada tahun 2015 dalam realitasnya masih mencapai 20 persen.

Begitu juga dengan status audit keuangan BPK dimana pada tahun 2015 ditargetkan WTP (wajar tanpa pengecualian) ternyata dalam realisasinya masih WDP (wajar dengan pengecualian).

Pertanyaan mendasar apakah Brebes bisa bergerak cepat menuju perubahan menjadi sebuah kabupaten yang lebih maju dan sejahtera, tentunya bisa.

Syarat pembangunan Brebes

Beberapa syarat yang diperlukan agar Kabupaten Brebes bisa bergerak cepat antara lain (1) perlunya fokus dengan pendekatan money follow program prioritas spt penanggulangan kemiskinan, infrastruktur, pendidikan kesehatan, pertanian dan pariwisata (2) peningkatan pengelolaan manajemen pemerintahan,

(3) penajaman pelaksanaan program dan proyek agar tepat sasaran, (4) efisiensi penggunaan APBD, (5) peningkatan kualitas SDM, (6) membangun dengan memberdayaan masyarakat dan memanfaatkan potensi lokal-spesifik.

Kesemua syarat tersebut harus bisa dituangkan dalam bentuk dokumen perencanaan daerah (RPJMD) untuk lima tahun ke depan. Dalam dokumen inilah visi misi Cabup akan diterjemahkan lebih detil ke dalam bentuk program prioritas dan SKPD apa yang akan melaksanakan.

Didalam program ini juga harus jelas indikator kinerjanya, target yang terukur dan pagu indikasi. Disamping itu dokumen ini juga harus sinkron dengan RPJMN 2015 -2019, hal ini penting mengingat untuk membangun Brebes tidak mungkin bisa dilakukan dengan APBD sendiri, tetapi juga perlu bantuan APBD Propinsi dan APBN.

Namun demikian semua itu akan kembali kepada kemauan, ketulusan, keikhlasan, kemampuan, kreativitas dan kecerdasan Bupati yang akan terpilih nanti untuk mau dan mampu melaksanakan pemerintahan yang bersih, partisipatif dan transfaran, ….!!! (*)

Posted in: Opini