Visi Misi Calon Bupati Brebes
BrebesNews.Co 10 October 2016 Read More →

Geger Dimas Kanjeng dan Komoditas Agama

bangsri

Oleh: Ahmad Syarifudin

(Dilahirkan di Desa Bangsri, Bulakamba, Brebes
Sekarang sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta.
Konsentrasi Jurnalistik)

Sungguh miris membaca di media, yang menyatakan ada warga Desa Rancawuluh Kecamatan Bulakamba Brebes yang ikut terseret pada pusaran permainan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Pria asal Probolinggo Jawa Timur, yang dengan ‘ketrampilan khusus’ katanya bisa menggandakan uang sepertinya sudah menyihir batas rasionalitas manusia normal. Dan lucunya ketrampilan itu tiba-tiba hilang saat dirinya di gelandang ke Mapolres Probolinggo.

Di telisik dari kacamata agama, fenomena ini sungguh sangat riskan, bagaimana bisa di era modern dengan semangat berinvestasi tinggi, masyarakat begitu gampang terpukau dengan adanya ‘dukun’ yang bisa menggandakan uang dengan cara-cara instan, tanpa sebuah mekanisme ekonomi yang semestinya.

Menyikapi fenomena ini, yang kemudian memaksa kita membuat satu analisisa, apakah mungkin masyarakat kita sedang ‘sakit’?,

Hal itu ter-ejawantahkan dengan menginginkan cara-cara instan untuk bisa meraup kekayaan dan ingin melecit pamornya tanpa harus kerja keras. Inilah yang kemudian dalam bahasa yang umum kita sebut gersang spiritual, yakni kondisi dimana beragama tetapi agama hanya sebatas pada pelengkap status semata.

Masyarakat kita tidak benar-benar menyelam dalam substansi agama itu sendiri.

Mari kita kaji fenomena ini secara empiris, dalam agama Islam, seorang yang memiliki kamampuan melebihi batas kemampuan yang dimiliki manusia pada umumnya disebut sebagai karomah. Kemampuan ini lazimnyahanya dimiliki oleh para waliyullah – manusia yang terjaga dari dosa dan dekat dengan Allah SWT.

Tetapi kemudian pertanyaan mendasar muncul, apakah mungkin Dimas kanjeng Taat Pribadi Wali seperti ajaran agama yang hari ini kita yakini?

Pertanyaan ini pun kemudian terjawab, dengan di gelandangnya Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Mapolres dengan dugaan pembunuhan dan penipuan, maka melunturkan pertanyaan Wali yang di sematkan padanya.
Secara logika tidak mungkin Wali melakukan hal-hal yang merugikan manusia. Apalagi sampai melakukan perbuatan keji dengan penghilangan nyawa.

Agama Sebagai Komoditas

Merujuk pada fenomena maha gemes tadi, memaksa kita untuk menarik satu kecenderungan bahwa, ada bisnis disana, atau semacam sesuatu yang membuat orang-orang merasa tergiur dan betah masuk berada dalam lingkarannya.

Agama sebagai perangkat spiritual menjadi barang ‘dagangan’ yang meligitimasi dari kerangkeng bisnis mereka. Ini sungguh perbuatan yang memangkas seluruh keyakinan kita akan manusia suci di abad modern saat ini.

Walaupun sebagaimana yang telah banyak kita ketahui, dalam hubungan sosial kapitalisme dan logika akumulasi kapital tak ada satupun di dunia yang tidak dijadikan komoditas.

Seperti, bapak ekonomi Adam Smith yang dulu menganggap air bukanlah suatu komoditas, tetapi nyatanya sekarang kita temukan air menjadi komoditas yang diperdagangkan untuk keuntungan. Itu persis seperti agama, tak ter-kecuali Islam.

Dulu, dizaman nabi dan para sahabat, Islam merupakan alat perjuangan, alat pembebasan dari jahiliyyahnya kaum Quraisyh, namun sekarang justru sebaliknya, sebagian agama justru dijadikan sebagai alat ‘membodohi’ manusia.

Dari situ kita bisa tangkap, agama menjadi barang murahan yang diperdagangkan, hanya untuk mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya. Dari situ pula agama menjadi alat penghisapan, penipuan dan setempel pembenar dari kebejatan.

Jika melihat kenyataan ini, terkadang kritik Marx yang dengan luar bisanya menulis bahwa “Agama adalah candu, Ia adalah keluh kesah makhluk yang tertindas” bisa jadi tidak keliru, walaupun tidak sepenuhnya benar.

Karena masyarakat hari ini melihat agama hanya pada ‘ketakjuban’ pada figur semata, tanpa mendalami dari esensi agama itu sendiri.Barangkali hanya ingin keuntungan instan yang sifatnya duniawi, bukan rohani.
Kedua fenomena yang mencuat itu bisa jadi hanya sample dari puluhan bahkan ratusan ‘bisnis’ serupa yang ada di bumi pertiwi ini.

Terbukti beberapa hari yang lalu bisnis dengan kedok serupa terbongkar di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Lagi-lagi tergiur penggandaan uang.

Dalam konteks ini, sudah seharusnya masyarakat lebih ‘peka’ bahwa hukum ekonomi tidak instan. Logika ekonomi sehat, ketika ada uang di investasikan dalam bentuk usaha bergerak yang dijalankan dengan tekun maka akan ada hasil. Bukan malah mengHamba pada ‘ketrampilan’ yang berkedok agama. Wallahu’alam. (*)

Posted in: Opini