BrebesNews.Co 12 October 2016 Read More →

Korban Tanah Bergerak di Sirampog Akhirnya Direlokasi

warga-tampak-tengah-melakukan-pembenahan-pada-rumah-mereka-di-tempat-relokasi

Warga-tampak-tengah-melakukan-pembenahan-pada-rumah-mereka-di-tempat-relokasi

BREBESNEWS.CO – 35 Kepala Keluarga (KK) dari 66 KK korban tanah bergerak di Dukuh Limbangan Desa Sridadi kecamatan Sirampog, akhirnya kini relokasi atau menempati ketempat yang baru di Dukuh Kabrok desa yang sama.

Namun sayang kondisinya masih memprihatinkan, dimana ditempat yang baru itu masih minim akan sarana dan prasana, seperti hanlnya air bersih, listrik dan akses jalan menuju pemukiman yang masih seadanya.

” Meskipun kondisinya masih serba terbatas, namun kami senang bisa pindah ketempat yang baru ini dan kami namai pedukuhan ini dengan nama dukuh Kabrok. Karena tempat ini merupakan tempat untuk terakhir untuk bermukim/kabrok setelah dilanda longsor akibat tanah bergerak,” ujar Sarban (60) salah seorang warga korban tanah bergerak kepada BREBESNEWS.CO, Rabu (12/10/2016).

Berdasarkan keterangan warga yang dihimpun dilapangan menyebutkan, jumlah korban tanah bergerak yang telah relokasi ketempat tersebut sebenarnya adalah 66 KK, namun karena ada warga yang tidak mampu untuk pindah karena faktor biaya, sehingga mereka masih ada yang menempati lokasi lama.

Bantuan 11 juta rupiah

Seperti diketahui bahwa pada bulan januari 2016 kemarin, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes telah memberikan bantuan relokasi kepada 87 Kepala Keluarga (KK) korban tanah bergerak didukuh Karanganyar dan Limbangan Desa Sridadi.

Bantuan sebesar Rp 11 juta untuk tiap KK itu digunakan untuk pengadaan tanah untuk relokasi. kemudian untuk setiap KK mendapatkan bagian tanah seluas 12x 7 meter persegi, sementara untuk memdirikan rumah mereka menggunakan biaya masing-masing.

Tampak ditempat yang baru itu telah berdiri 35 bangunan rumah semi permanen dengan kontruksi kayu dan dinding asbes atau GRC. Sementara lantai rumah masih berupa tanah hanya beberapa yang telah diplester.

“Walaupun bangunan rumah semi permanen akan tetapi biaya untuk membuat 1 unit rumah itu, membutuhkan anggaran sekitar Rp 20 juta dan itu bukan uang yang sedikit bagi kami para korban tanah bergerak,” ungkap sumarno (50) yang juga warga pedukuhan baru itu.

Kepala Desa Sridadi, Nasugiyanto mengakui bahwa tidak semua warga korban tanah bergerak sudah melakukan relokasi ketempat yang baru. Dari jumlah 87 KK yang menjadi korban tanah bergerak itu baru sekitar 70 persen yang sudah melakukan relokasi dan sisanya masih sekitar 30 persen lagi.

Rinciannya yakni untuk warga Dukuh Karanganyar sejumlah 21 KK semuanya telah melakukan relokasi, sementara untuk dukuh Limbangan dari 66 KK baru ada 35 KK yang telah relokasi dan 31 KK belum relokasi karena keterbatasan biaya.

“Untuk itu kami akan upayakan meminta bantuan ke Kementerian Sosial (Kemensos) guna upaya relokasi bagi warga yang masih bermukim ditempat yang lama dan rencananya dalam waktu dekat akan segera cair, namun kapan waktunya kami belum tahu,” papar Nasugiyanto.
(DHANI_Bumiayu)

Posted in: Sosial