DIRGAHAYU KAB. BREBES KE 339
BrebesNews.Co 13 November 2016 Read More →

Menelisik Kesenian Khas Calung di Desa Jipang Bantarkawung

calung

Oleh : Nandhy Prasetyo
prasetyobrebes@gmail.com

Jipang, merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, letaknya ada disebelah selatan pusat kota Brebes, yang berbatasan langsung dengan daerah Tasik Jawa Barat (arah selatan) dan berbatasan dengan Majenang Cilacap Jawa Tengah (arah barat).

Keanekaragaman budaya Sunda dapat kita temui di desa ini, mulai dari barongan, sintren, wayang golek, wayang kulit, jaipong, dan calung.

Kesenian bagi sebagian masyarakat Desa Jipang, sangatlah erat karena kesenian menyatu dengan aspek-aspek budaya lain disana. Khususnya dalam kesenian musik, mereka tidak bisa lepas darinya, musik bukanlah sekedar hiburan atau bersantai.  Akan tetapi, musik berpadu dengan kepercayaan, struktur sosial, bahkan didalam aktifitas perekonomian warga setempat.

Pertunjukan musik bambu yang dinamis dan atraktif sangat popular dikalangan masyarakat, tidak hanya digandrungi oleh kelompok masyarakat (kolot) saja mereka menyebutnya, akan tetapi dinikmati dan disukai hampir sebagian warganya.

Calung sangatlah popular karena memang hanya Jipanglah satu-satunya pemilik kesenian ini di Brebes.

Pertunjukan calung kerap kali ditampilkan dalam acara-acara adat seperti pernikahan dan khitanan warga. Pertunjukan calung tidak hanya menampilkan musik semata, tetapi dipadukan dengan dialog segar dari para pelawak (bodor).

Dalam setiap kali pementasan calung dimainkan kurang lebih oleh 10-12 orang pemain, diantaranya 1 pemain calung melodi, 2 orang pemain calung penerus, 1 orang pemain gong, 1 orang pemain tamborin, 1 orang pemain kendang, 1-2 orang penyanyi, dan 3 orang bodor.

Calung yang hidup dan dikenal masyarakat sekarang ini merupakan proportipe dari angklung. Perbedaan antara calung an angklung adalah dari cara memainkannya, calung cara memainkannya dengan dipukul menggunakan (penakol) alat pemukul calung yang terbuat dari kayu, sedangkan angklung dengan cara digoyangkan.

Calung merupakan salah satu wujud kebudayaan bangsa Indonesia yang mengalami perkembangan dalam bentuk artistik (tampilan instrumen) dan perubahan bentuk penyajian akibat perjalanan masa, sehingga tidak lagi kita jumpai pementasan calung seperti saat dahulu.

Calung dibuat dengan pandangan dasar yang artistik yang berkembang mengikuti zaman. Calung dahulu hanyalah sebuah nama instrument musik bambu yang dimainkan sendiri, tidak dalam bentuk kelompok.

Cara memainkan instrumentpun mengalami perubahan, dahulu calung hanya dimainkan dengan duduk sambil menjulurkan kedua kakinya kedepan karena kedua ujung tali calung itu diikatkan pada pinggang pemain.

Rentangan tali dibagian depannya diikatkan pada kedua ibu jari kakinya (rantay), tetapi calung sekarang ini dibuat dengan tujuan memudahkan pemain dalam memainkanya karena inovasi yang dilakukan Sujatmono membuat calung yang cara memainkannya dengan dijingjing.

Nilai calung secara artistik dapat dilihat dari teknik memainkan dan nada yang dihasilkannya, yaitu dengan memukul batang (wilahan) dari ruas-ruas atau tabung bambu yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik sunda ( da-mi-na-ti-la-da) yang dalam tangga nada diatonisnya (do-re-mi-sol-la-do).

Pengaruh geografis

Calung berkembang di desa Jipang, Bantarkawung ini sangat dipengaruhi juga dengan keadaan geografis yang banyak ditumbuhi berbagai macam dan jenis bambu, yang tidak ditemukan didaerah Brebes yang lain, sehingga calung hanya berkembang dan diproduksi di Desa Jipang.

Jenis bambu yang digunakan dalam pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun adapula yang dibuat dengan awi temen (bambu putih).

Bambu merupakan jenis kayu yang istimewa bagi masyarakat Jipang, mereka berpendapat tidak ada satu rumah warga yang tidak menggunakan bambu sebagai bahan dasarnya, belum lagi alat-alat kebutuhan rumah tangga yang banyak dibuat dengan anyaman bambu.

Dari alasan itulah sehingga calung dahulu disakralkan warga masyarakat Jipang, calung dimainkan dalam upacara pertanian dengan tembang sunda klasik, dimainkan malam hari, dihuma (gubug) pada saat padi mulai menguning.

selain bertujuan agar padi tidak gabung dimakan hama, mereka juga meyakini memainkan calung sebagai simbol penghormatan kepada Nyai Sri Pohaci lambang dewi padi pemberi kehidupan.

Secara spesifik menurut Bapak Sujatmono, fungsi calung dewasa ini semakin beragam. Dalam kegiatan atau pesta warga misalnya, sedekah bumi, acara desa, untuk ajang kampanye, keagamaan bahkan masuk dalam ranah pendidikan.

Calung dirasa sangat dekat dengan desa Jipang ini, banyak instansi-instansi sekolah yang memilih calung dalam kegiatan bermusiknya dari pada dram band maupun marching. Sehingga dalam 1 minggu Bapak Sujatmono dan Unka Anjana (putranya Bapak Sujatmono) selalu dipadati jadwal melatih sekolah-sekolah didaerah sekitar.

Kegiatan semakin padat apabila mendekati hari-hari besar seperti 17 agustus, hari Pramuka, dan lain-lain. Calung dalam kegiatan agama juga berperan, misalnya saat peringatan maulid nabi.

Hampir dapat dipastikan setiap ada kegiaran, baik kegiatan keagamaan ataupun kemasyarakatan menurut Bapak Rukito dan Sujatmono, calung selalu hadir Cuma dengan kemasan-kemasan yang ditentukan dengan tema-tema kegiatan dan kebutuhannya. (*)

Posted in: Opini