BrebesNews.Co 28 November 2016 Read More →

Problematika Pendidikan Tinggi dan Pasar Kerja

kerja

Oleh : Rizky Alisha Rahma
( Warga Jatibarang, Sedang menempuh pendidikan di Undip Semarang )

Lebih dari satu juta mahasiswa, wisuda tiap tahunnya. Mahasiswa telah dihadapkan pada realitas baru, yaitu pasar kerja dengan peluang yang sangat sedikit.

Hal ini sangat berdampak buruk bagi mahasiswa yang baru lulus atau Fresh Graduate dengan pengalaman yang minim, karena ini yang menambah tingkat pengangguran di Indonesia bertambah.

Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang sedang mencari kerja pada akhirnya tidak menggunakan pendidikannya yang selama ini ia tempuh.

Banyak faktor yang menyebabkan pendidikan tidak terpakai setelah masuk di dunia kerja salah satunya karena peluang untuk masuk pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang ditempuhnya sedikit.

Ini menyebabkan banyak dari kita untuk benting setir. Apapun akan ditempuh untuk mencari nafkah di jaman sekarang.

Realitas ini menimbulkan mubazirnya ilmu yang telah diperoleh sewaktu menempuh perguruan tinggi, bukan hanya ilmu, waktu maupun uang sepertinya telah terbuang sia-sia.

Ini dapat menimbulkan prasangka pada masyarakat akan tidak pentingnya penjurusan pada perguruan tinggi. Pasalnya penjurusan tidaklah dapat menentukan masa depan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.

Dampak yang paling merugikan yakni, akan menimbulkan semakin berkurangnya minat orang pada pendidikan tinggi dan menciptakan orang-orang yang tidak berkualitas.

Meski jaman sudah berkembang dan lapangan kerja semakin banyak, masih belum cukup untuk menampung lulusan mahasiswa-mahasiswa yang tiap tahunnya yang terus meningkat.

Persaingan perguruan tinggi pun menjadi suatu prestige tersendiri dikalangan masyarakat, pasalnya perguruan tinggi yang ditempuh akan mempengaruhi peluang masuknya seseorang dalam dunia kerja.

Sehingga tiap tahunnya, akan ada banyak lulusan sekolah menegah atas yang bersaing untuk masuk perguruan tinggi unggulan tanpa melihat passion ( sesuai keinginan) yang dia miliiki. Yang terpenting masuk universitas unggulan.

Mental seperti ini dapat menyebabkan angka mahasiswa mangkir, atau dapat menciptakan wisudawan yang tidak berkompeten di bidang ilmu yang digelutinya.

Peran orang tua

Persepsi seperti ini patut dihilangkan dalam masyarakat. Kita bisa mencegahnya dari awal. Dari pengenalan passion yang dimiliki maupun keinginan untuk menjadi apa nantinya dari usia dini.

Pembelajaran seperti ini yang sering dilupakan oleh banyak orang tua sekarang. Banyak orang tua yang terlambat untuk mengenalkan realitas kehidupan pada anak-anak tentang dunia yang akan mereka hadapi.

Bahkan banyak orang tua yang tak mau ambil pusing dalam hal ini dan langsung menentukan masa depan sang anak tanpa memikirkan passionmaupun keinginan sang anak.

Bukan juga, bila para orang tua membiarkan sang anak memilih jurusan studi, tetapi sebagai orang tua sebaiknya kita mengarahkan pada keinginan si anak dengan menghadapkannya pada realitas yang ada. (*)

Posted in: Opini