BrebesNews.Co 5 March 2017 Read More →

Prihatin dengan Kondisi Desanya, Kanam Bangun Jembatan dengan Biaya Sendiri

Kanam dengan latar belakang jembatan di desanya yang tengah dibangun atas biaya sendiri

BREBESNEWS.co – Berawal dari sebuah keprihatinan saat dirinya hendak pulang kerumah, yang harus menunggu hujan reda atau terpaksa harus menyeberangi derasnya arus sungai Tandang, yang berada di blok Lemahlaki Dukuh Cikamuning Desa Pangarasan Kecamatan Bantarkawung ini, Kanam (60) salah satu warga setempat, tergugah untuk membuat jembatan dengan biaya sendiri.

Saat ini ia tengah membangun akses jembatan bernilai ratusan juta rupiah, guna memudahkan warga sekitar menyeberangi sungai tersebut.

“Saya sudah punya niat, ingin bikin jembatan penghubung agar masyarakat disini bisa menyeberangi sungai Tandang dengan aman. Kemudian saya mengutarakan niat ini kepada Raswen istriku dan Alhamdulillah dia mendukung niat saya,” ujar Kanam saat ditemui BREBESNEWS.co, Sabtu (4/3/2017).

 

Menurut Kanam, selama ini masyarakat di blok Lemahlaki dimana ia berdomisili, terbilang masih terisolir. Hal tersebut karena belum ada jembatan penghubung dan akses jalan yang terbilang sulit terlebih lagi jika musim hujan.

Kondisi arus sungai yang deras dan debit air yang tinggi, kerap membuat warga yang hendak menyebrang harus menunggu hingga esok hari. Hal itulah yang mrmbuat ia ingin membangun jembatan.

“Memang diblok Lemahlaki saat ini baru dihuni oleh 18 Kepala Keluarga dengan 18 bangunan rumah semi permanen, namun saya yakin jika jembatan ini nanti jadi, beberapa tanah yang masih kosong akan terisi pemukiman warga,” jelas Kanam.

Kanam mengaku, dengan akan dibangunnya jembatan, banyak warga yang mulai membeli sejumlah bidang tanah untuk dibuat hunian.

Lebih lanjut Kanam menerangkan, Jembatan penghubung antara dukuh Cikamuning blok geger bulet dengan blok lemahlaki ini, rencananya memiliki panjang sekitar 24 x 2 meter dan tinggi sekitar 5 meter.

“Untuk kontruksi jembatan ini terbuat dari beton dengan tulang besi cor dan sebagian menggunakan penopang besi WF. Jika dihitung hitung hingga, biayanya saat ini sudah lebih dari seratus juta rupiah,” tutur pria yang dikarunia 5 anak ini.

Cukup untuk makan

Sementara Raswen (57) sang istri saat ditanya perihal pembangunan jembatan penghubung itu menyatakan, dirinya sangat mendukung apa yang dilakukan suaminya.

Dia tidak merasa keberatan jika penghasilan suaminya lebih banyak untuk biaya pembangunan jembatan.

Selama ini hasil usaha perahu penyebrangan di Cibitung Bekasi barat dan usaha penggergajian kayu dikampung halaman, setelah dipakai untuk biaya pembangunan jembatan masih cukup untuk hidup sehari-hari.

” Semoga saja apa yang kami lakukan ini bisa memberikan manfaat bagi kepentingan umum dan bisa dijadikan ladang amal bagi kami,” aku nenek dengan 8 cucu ini. (DHANI)

Posted in: Serba Serbi