BrebesNews.Co 16 May 2017 Read More →

Drama Kematian Doktrin Khilafah Warnai Harlah Fatayat ke 67 di Brebes

Drama dengan mengusung tema kematian doktrn khilafah saat harlah Fatayat NU ke 67 di Kecamatan Kersana Brebes

BREBESNEWS.co -Peringatan Hari Lahir (Harlah) Fatayat NU tingkat Kabupaten Brebes diisi dengan sosio drama tentang kematian Hizbuth Tahrir Indonesia (HTI) yang ingin memaksakan ideology negara Islam dalam negara Indonesia.

Perlakuan HTI yang menebar kebencian yang digambarkan dengan Wanita-wanita bercadar, menganiaya wanita Nahdliyah yang takzim mengikuti jejak Wali Songo. Wanita-wanita bercadar itu merayu dan mengajak mendirikan khilafah.

“Lewat drama, pesan-pesan sosial bisa disampaikan secara gamblang tanpa kesan menggurui,” kata Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Brebes Mukminah, di sela pagelaran, di Lapangan PG Kersana, Brebes, Ahad (14/5/2017) lalu.

Mukminah menerangkan kalau kebencian HTI terhadap Pancasila, NKRI, dan mengganggap pemimpin kafir sebagai toghut tidak bisa ditolerir lagi.

Sehingga wajar kalau kemudian Pemerintah dengan tegas membubarkan organisasi berdalih Islam tersebut.
Dalam drama tersebut digambarkan HTI dengan lantang menghina tradisi Nahdliyin dengan sebutan bid’ah, kafir dan neraka serta mengumbar kebencian terhadap pemerintahan yang sah, NKRI.

Di harlah ke-67 Bupati Brebes Hj Priyanti SE menyebut Fatayat NU sebagai wanita hebat. Karena dari tangan dan hati ibu-ibu muda Fatayat mampu mengantarkan putra-putrinya menjadi anak yang saleh-saleha.

Wanita Fatayat, kata Idza, harus menjadi kader yang kreatif dan inovatif. Dia juga meminta Fatayat untuk menjadi garda terdepan dalam pembangunan umat.

Termasuk membantu pembangunan daerah dengan bersinergi yang apik antara kegiatan Fatayat dengan program yang pemerintah.

“Sinegi yang baik dan kokoh, akan mensukseskan pembangunan demi kesejahteraan umat,” ungkapnya.

Budayawan Sastrouw Al Ngatawi dalam tausiyahnya menyampaikan kepada hadirin untuk kuat-kuat mempertahankan tradisi NU. Jangan digubris orang-orang yang berkoar dengan menghina-hina tradisi NU.

Karena lewat tradisi NU justru mampu memperkokoh persatuan dan kesatuan serta kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Para pendahulu Negara, kata Sastrouw, telah meletakan pondasi yang kuat dengan Pancsila sebagai dasar Negara.

Namun tidak berarti Negara Indonesia harus menjadi Negara Islam karena sudah ber Bhineka Tunggal Ika.

Dalam kesempatan tersebut, diberikan juga hadiah kepada tiga peserta Trainer of training (TOT) bagi anggota Fatayat NU yang digelar beberapa waktu lalu di obyek wisata Guci Kabupaten Tegal. (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi