BrebesNews.Co 7 August 2017 Read More →

Harga Jatuh, Petani Cabai Rawit di Tegalglagah Alami Kerugian Besar

Para petani cabai rawit di Desa Tegalglagah Kecamatan Bulakamba saat memanen tanamannya yang kini harganya jatuh

BREBESNEWS.co -Petani cabai rawit di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, mengaku saat ini pihaknya telah mengalami kerugian yang cukup banyak.

Kerugian tersebut disebabkan karena harga cabai rawit mengalami kemelorotan yang sangat signifikan hingga pada kisaran harga 5 sampai 4 ribu rupiah per kilonya.

Salah seorang petani cabai rawit, Dirmo menuturkan bahwa kemelorotan harga cabai rawit terjadi sekitar tiga bulan yang lalu.

Hal itu, lanjutnya, diduga akibat adanya permainan harga dari para bakul dan pengepul yang mematok harga kepada petani dengan sangat murah.

“Padahal beberapa bulan yang lalu harga sampai pada kisaran 20 ribu perkilo. Tapi per hari turun 2 ribu, sampai sekarang harganya jebol mas. Biasanya tiap hari panen sekarang buat panen saja susah buat bayar kuli-nya, jadi panen paling dua minggu sekali,” terang Dirmo saat ditemui di kebun cabainya, Senin (7/8/2017).

Meski harga sempat turun,, namun menurut Dirmo, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, harga cabai rawit di tahun sekarang ini lebih baik.

Harga cabai rawit ditahun sebelumnya, paling murah pada kisaran 2 hingga 3 ribu per kilo, berbeda tipis dengan tahun sekarang.

” Meski harga lebih baik, tetap saja petani jelas rugi. Pasalnya waktu harga mahal kita tiap panen tidak banyak. Sekarang harga murah kita setiap kali panen bisa sampai satu kwintal. Belum buat bayar kulinya, buat biaya isi air di sawahnya, juga biaya buat merawat tanaman cabainya,” ujar Dirmo.

Senada juga diucapkan oleh salah seorang petani cabai rawit lainnya, Diana.

Menurutnya, kemelorotan harga cabai rawit juga disebabkan karena adanya panen raya diberbagai desa dan daerah lainnya.

“Ya kita, para petani jelas rugi ya mas. Buat bibitnya sudah 250 ribu, buat pupuk sekali kasih  300 ribu sedangkan cabai butuh dipupuk berkali-kali,” aku Diana.

“Apalagi sekarang musim kemarau, air juga harus dipompa, butuh bensin tiap hari 50 ribu. Jelas rugi mas, harganya kayak gini terus si,” tambah Diana.

Parahnya, menurut Diana, pada saat harga cabai mahal, hama yang menyerang tanaman cabai rawit banyak. Akan tetapi, lanjutnya, saat harga cabai rawit murah, hama yang menyerang tidak ada sama sekali.

“Harga mahal panen sedikit, harga murah panen banyak. Ada juga tetangga gara-gara harga murah, habis panen langsung dibawa pulang ke rumah daripada rugi banyak,” tandas Diana.

Dengan turun drastisnya harga cabai rawit, para petani berharap pemerintah mau turun tangan terutama menertibkan para pengepul yang diduga telah mempermainkan harga,” tandasnya.

( Kiriman : Didi Agus/Warga Desa Tegalglagah)
Editor ; AFiF.A

Posted in: Ekonomi & Bisnis