BrebesNews.Co 7 November 2017 Read More →

Melihat Peluang Brebes Sebagai Lokasi Investasi Perusahaan Manufaktur

Oleh : Kaserin

Warga Luwunggede, Larangan, Brebes
Penikmat berita Ekonomi, Sosial Budaya, dan Olahraga
Alumni Jurusan Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan UGM Yogyakarta

Dalam beberapa tahun belakangan ada fenomena dimana beberapa perusahaan manufaktur mendirikan pabrik di Kabupaten Brebes, yang sebagian besar terletak di sekitar Pantura.

Ada perusahaan sepatu Adidas (PT. Bintang Indokarya Gemilang) yang berorientasi ekspor, perusahaan rokok (PT. Gudang Garam), perusahaan garmen (PT. Yeon Heung Mega Sari) dan masih beberapa lagi lainnya. Padahal bertahun-tahun sebelumnya perusahaan-perusahaan manufaktur tersebut mendirikan pabrik di wilayah Jabodetabek.

Di Kabupaten Cirebon Jawa Barat yang notabene dekat wilayah perbatasan Brebes, juga sedang menggeliat dengan pembangunan pabrik-pabrik manufaktur di sekitar Pantura Cirebon. Ada juga pembangunan Kawasan Industri Kendal (KIK)
yang tentu menjadi lokasi perusahaan-perusahaan manufaktur mendirikan pabrik.

Faktor Tingginya UMK

Permasalahan yang paling mendasar dari berpindahnya perusahaan-perusahaan manufaktur tersebut dari wilayah Jabodetabek ke wilayah Pantura Jawa (Cirebon dan Brebes) adalah karena tingginya upah buruh di wilayah Jabodetabek.

Jika kita melihat angka upah minimum kabupaten (UMK) tahun 2017 untuk wilayah Jabodetabek yang selama ini menjadi pusat berdirinya perusahaan-perusahaan manufaktur maka terlihat perbedaan angka yang sangat besar. Sebagai contoh upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2017 sebesar Rp. 3.355.750,-, sementara UMK tahun 2017 untuk Kabupaten Brebes sebesar Rp 1.418.100,-.

Tentu perbedaan upah yang sangat besar ini menjadi pertimbangan para pengusaha memindahkan pabriknya ke wilayah dengan upah tenaga kerja murah karena upah tenaga kerja merupakan angka yang signikan sekali terhadap ongkos produksi.

Apalagi dengan perkembangan dan pembangunan infrastruktur jalan tol Trans Jawa yang mempercepat waktu tempuh Brebes-Jakarta, sehingga masalah transportasi bukan lagi menjadi kendala ketika harus mengirimkan bahan mentah dari Jakarta ke Brebes dan mengirimkan barang yang sudah jadi dari Brebes ke Jakarta.

Mencari Peluang Investasi Baru

Banyak manfaat ekonomi dari keberadaan perusahaan-perusahaan manufaktur yang ada di Brebes. Perusahaan manufaktur menyerap banyak tenaga kerja yang ada di wilayah Brebes sehingga mengurangi angka pengangguran, bahkan banyak tenaga kerja dari wilayah sekitar Brebes (Cirebon, Kuningan, Tegal dan Slawi) yang ikut terserap.

Apalagi jika kita membaca di media bahwa Bupati Brebes Idza Priyanti sangat menghimbau warga Brebes untuk tidak merantau dan membangun daerahnya sendiri, karena selama ini banyak tenaga kerja formal Brebes yang merantau ke wilayah Jabodetabek untuk bekerja.

Selain itu dengan adanya pabrik maka akan menumbuhkan kegiatan ekonomi baru di sekitar pabrik. Mislanya dengan tumbuhnya warung-warung makan dan tumbuhnya rumah-rumah indekost  sehingga menjadi pemasukan tambahan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Belum lagi faktor pajak yang dibayarkan perusahan-perusahaan tersebut kepada pemerintah daerah yang akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pajak tersebut bisa digunakan untuk membangun dan memajukan Brebes untuk mengejar ketertinggalan Brebes dari kabupaten/ kota lain di Jawa Tengah karena sudah lama sekali Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Brebes berada di urutan buncit di Provinsi Jawa Tengah.

Jika kita membaca di media online tentang polemik penetapan UMP DKI Tahun 2018 dimana para buruh meminta angka UMP DKI di angka Rp. 3.9 juta (akhirnya diputuskan Rp. 3,6 juta), sedangkan pengusaha melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) keberatan dengan angka tersebut karena terlalu besar di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang masih lesu dan produktifitas buruh yang masih relatif rendah.

Wacana yang kemudian muncul dari Apindo adalah memindahkan pabrik dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Jawa Barat, atau ke negara-negara ASEAN yang masih memiliki upah buruh murah seperti Myanmar, Kamboja dan Vietnam.

Jika melihat fenomena beberapa tahun belakang ini maka peluang untuk menarik investor untuk membuka pabrik di Brebes sebenarnya terbuka, tinggal bagaimana pemerintah daerah memanfaatkan situasi tersebut.

Harus ada usaha nyata mempromosikan Kabupaten Brebes sebagai wilayah berinvestasi yang menguntungkan. Brebes memiliki potensi sebagai wilayah tujuan investasi perusahaan manufaktur, karena Brebes dilewati jalan trans nasional (Jalan Tol Trans Jawa dan Jalan Pantura) sehingga waktu tempuh dari dan ke Jakarta relatif bisa dijangkau dalam waktu singkat (± 5 jam),

Infrastruktur berupa jalan provinsi atau jalan kabupaten yang memadai dan terhubung ke jalan nasional, SDM (Sumber Daya Manusia) yang mencukupi secara kuantitas dan kualitas, upah tenaga kerja yang relatif masih murah, dan ketersediaan lahan yang memadai. Untuk lahan kita bisa memanfaatkan sawah-sawah tadah hujan yang areanya luas sekali di Kabupaten Brebes.

Bahkan untuk jangka panjang bisa dibuat Kawasan Industri Brebes untuk melokalisir dan menempatkan perusahan-perusahaan dalam satu lokasi/ kawasan.

Birokrasi Perijinan Sebagai Faktor Pembeda

Selain faktor infrastruktur, Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketersediaan lahan faktor yang juga tidak kalah penting adalah birokrasi per-ijinan. Birokrasi perijinan yang singkat, cepat dan tidak koruptif adalah salah satu hal yang bisa dijual untuk menarik investor masuk.

Sebagai warga Brebes, pasti kita tidak mau melihat Kabupaten Brebes yang dari dulu sampai sekarang begini-begini saja tanpa ada perubahan kemajuan yang signifikan.

Pada akhirnya niat dan keseriusan membangun dan memajukan Kabupaten Brebes akan sangat bergantung dengan kebijakan para pengambil keputusan dan kebijakan di tingkat kabupaten. Semoga.. (*).

Posted in: Opini