By 7 February 2018

Angka Stunting Brebes Tertinggi di Jeteng, Depkes RI Turun Tangan

Pertemuan sosialisasi dan koordinasi program penanggulangan stunting bersama tim Depkes RI di Kabupaten Brebes, di ruang rapat Bupati, Rabu (7/2/2018).

BREBESNEWS.co – Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH mengajak seluruh komponen masyarakat untuk memperhatikan asupan gizi anak dibawah usia dua tahun (baduta).

Pasalnya, kekurangan gizi kronis bisa mengakibatkan terjadinya stunting ( bertubuh pendek) atau kondisi gagal tumbuh terlalu pendek pada usianya.

Meskipun Angka Stunting turun menjadi 32,7 persen di tahun 2017 dibandingkan pada tahun 2013 yang mencapai 47 persen. Namun Kasus Stunting di Brebes tercatat menjadi 2 tertinggi setelah Kabupaten Pemalang.

Ajakan tersebut disampaikan Idza Priyanti saat membuka pertemuan sosialisasi dan koordinasi program penanggulangan stunting di Kabupaten Brebes, di ruang rapat Bupati, Rabu (7/2/2018).

Idza menjelaskan, berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017, data stunting yang ada di Kabupaten Brebes 32,7 persen.

Dari tingginya angka tersebut, Kabupaten Brebes masuk dalam sepuluh besar kabupaten prioritas penanggulangan stunting dari 100 kabupaten di seluruh Indonesia yang akan diintervensi pada 2018.

“Dari 297 desa se Kabupaten Brebes, 10 desa mendapat prioritas intervensi,” ujar Idza.

Kesepuluh desa tersebut yakni Desa Jatisawit, Kalilangkap, Kalinusu, Pruwatan di Kecamatan Bumiayu. Kemudian Desa Dukuhmaja (Songgom), Janegara (Jatibarang), Wanasari dan Glonggong (Wanasari), Grinting (Bulakamba), dan Cigadung (Banjarharjo).

Idza berkomitmen, penanganan stunting agar penurunan prevalensi stunting dapat dipercepat. Terbukti, intervensi stunting sudah dimulai 2012 dan mendapatkan dukungan dari dana kerjasama Bappenas dan Unicef.

Setelah program intervensi dari Bappenas dan Unicef berakhir 2016, namun tetap dilanjutkan lewat dana APBD Brebes.

Untuk itu, Idza mengajak seluruh komponen masyarakat dalam penanganan stunting. Koordinasi antar sektor dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, semua elemen seperti petugas kesehatan di lingkungan puskesmas, dinas kesehatan, bidan, dan petugas gizi.

“Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), tokoh agama, tokoh masyarakat juga harus ‘saiyeg saeko proyo’ atau barentg-bareng perangi stunting,” ajaknya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI dr Imran Agus Nurali SpKO mengungkapkan, Stunting yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak hanya dialami oleh rumah tangga atau keluarga yang miskin dan kurang mampu saja.

“Terbukti, stunting dialami oleh rumah tangga atau keluarga yang tidak miskin berada di atas 40 persen,”

Saat ini, pihaknya (Departeman Kesehatan RI-red) tengah melakukan Verifikasi data yang ada tentang Stunting di Brebes dan Pemalang sebagai Kabupaten yang memiliki kasus stunting tertinggi di Jawa Tengah.

“verifikasi atau pendataan riil tersebut antara lain terkait puskesmas, logistik, tenaga kesehatan, program kesehatan, dan keterlibatan lintas sector dalam penanggulangan stunting. (AFiF.A)

Posted in: Serba Serbi