BrebesNews.Co 29 May 2018 Read More →

Kiai Rosyidi : Saat Ada Perjanjian Damai, Orang Kafir Tidak Boleh Diperangi

Imam besar Masjid Agung Brebes   KH Rosyidi

BREBESNEWS.co _ Imam besar Masjid Agung Brebes Drs KH Rosyidi menjelaskan, kalau Ramadhan itu bukan bulan biasa. Karena banyak rahasia yang mustinya bisa ditangkap oleh mahluk-Nya dengan cara peningkatan ibadah kepada Yang Maha Kuasa.

Tanpa peningkatan ibadah di bulan Ramadhan sama saja menapaki jejak perjalanan panjang yang sia sia belaka. Termasuk kepada kelompok radikalisme dan terorisme, agar meluruskan pemahaman terhadap Islam.

“Akibat pemahaman yang keliru, membuat kaum radikalisme dan terorisme membabi buta dengan dalih agama. Ramadhan ini, hendaknya dijadikan momentum meluruskan pemahamannya terhadap Islam,” ujar KH Rosyidi saat berbincang di kediamannya, Pasarbatang Brebes, Jawa Tengah, Ahad (27/5/2018).

Kiai sepuh di Brebes ini menyayangkan sikap yang diambil para kaum radikalisme ketika membuat gerakan khilafah dengan konyol.

“Jihad itu, bukan dengan memerangi sesama manusia meskipun itu orang kafir. Kelompok radikalisme dan terorisme hendaknya memahami Islam dengan lebih baik lagi sehingga tidak terjadi pertumpahan darah,” terangnya.

Di bulan puasa, nuraninya harus diasah kembali sehingga tidak terfokus pada surga kamuflase dengan cara ngebom bunuh diri.

Ketika sudah ada perjanjian damai, tegasnya, maka kaum kafir itu tidak boleh diperangi. Apalagi terhadap saudara muslim. Nyatanya, banyak korban akibat ulah kaum radikalisme dan terorisme adalah saudara muslim.

“Jihad yang besar, adalah melawan hawa nafsu,” tandas Kiai Rosyidi yang mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Brebes era 90-an.

Kiai Rosyidi juga bersyukur, antara NU dan Muhammadiyah tidak lagi merisaukan perbedaan kilafiyah dalam amaliyah.

Antara NU dan Muhammadiyah meskipun berbeda tetapi tidak ditonjol-tonjolkan karena sudah dewasa dalam pemahaman agamanya.

Berbeda dengan kelompok radikalisme yang memaksakan kehendak. Versi mereka, semua hal baru yang tidak ada dalam tuntunan Nabi dibid’ahkan, bidah dolalah yang berujung pada neraka.

“Kalau NU luwes, sirine tanda buka puasa misalnya tidak ada dalam tuntunan Nabi maka itu dimaknai bidah khasanah (baik). Meskipun baru, tapi membawa kemaslahatan umat manusia,” pungkasnya. (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi