By 11 October 2018

Brebes Harus Optimalkan Pengembangan Hunian Murah untuk Masyarakat

Ilustrasi

Ketimpangan antara jumlah masyarakat dengan ketersediaan properti hunian atau disebut backlog di Indonesia diketahui masih merupakan permasalahan yang terus dikikis oleh pemerintah.

Semenjak 2015, pemerintah telah meluncurkan program 1 juta rumah, yang diharapkan dapat mendorong masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah untuk bisa memiliki hunian idaman mereka.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia diketahui mengalami besaran backlog yang besar, tidak terkecuali di Kabupaten Brebes.

Data terakhir pada 2015 mengutarakan bahwa angka backlog perumahan di Brebes diketahui berada diatas 50 ribu (57.698).

Meskipun terdapat sejumlah pilihan hunian tapak yang tersebar di Kabupaten Brebes, namun jumlah yang ada dinilai belum optimal dibanding dengan beberapa kabupaten yang terletak dalam gugus Jalan Pantai Utara Jawa, Tegal-Pemalang-Pekalongan misalnya.

Faktor penyebab

Sebenarnya terdapat beberapa faktor penyebab belum optimalnya pengembangan hunian di Kabupaten Brebes.

Misalnya saja seperti belum banyaknya pengembang yang hadir meramaikan pengembangan properti serta kemampuan beli masyarakat yang masih segmented.

Mart Polman, Managing Director Lamudi.co.id mengemukakan, sebenarnya terdapat peluang yang sangat besar untuk mendatangkan developer untuk mengembangkan beragam tipe hunian mulai dari rumah tapak hingga apartemen/rusunami di Brebes.

Selain dari ketersediaan jumlah tanah dijual yang masih banyak dengan harga rata-rata tanah per meter perseginya
masih sangat terjangkau yakni di 407.625 rupiah, terbangunnya sejumlah infrastruktur jalan baru, keberadaan kawasan industri, serta letak Brebes sebagai wilayah penyangga pada jalan Pantura dinilai cukup menjadi alasan untuk hadirnya para pengembang hunian di Brebes.

Apalagi kini ditambah dengan pengaplikasian kebijakan peringkasan izin pendirian bangunan hanya sekitaran 1,5 bulan setelah adanya paket kebijakan ekonomi ke-13.

Bagi para investor yang hadir, ia menyarankan sekiranya juga mempertimbangkan kemampuan daya beli properti masyarakat setempat yang diketahui tidak terlalu tinggi.

Rumah minimalis

Perumahan murah minimalis khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan menengah
merupakan opsi terbaik yang dapat dimunculkan pada kawasan tersebut.

Pertimbangan ini diambil mengingat upah minimum Kabupaten/Kota (UMK) Brebes yang berada pada 5 peringkat terbawah UMK Jateng 2018, yakni sebesar 1,54 juta rupiah.

Berdasarkan data dari portal properti Lamudi.co.id, saat ini harga rata-rata rumah per meter persegi di Brebes diketahui menyentuh kisaran harga 6,8 juta rupiah.

Jika dianalisis mengikuti tipe hunian murah minimalis tipe 36/72 dengan harga rata-rata bangunan dan tanah tersebut, masyarakat dapat membeli hunian minimalis tersebut dengan cicilan minimal 800 ribu rupiah
per bulannya selama 20 tahun setelah pembayaran uang muka.

Kemampuan beli masyarakat tersebut tentunya dapat menjadi acuan pasar pembelian properti yang potensial bagi para investor atau developer yang mengembangkan hunian murah di Kabupaten Brebes.

Ia menambahkan para developer tidak perlu takut untuk tidak mendapatkan konsumen, mengingat permintaan hunian yang dinilai cukup tinggi untuk segmen hunian. (advetorial)

Posted in: Serba Serbi