By 15 October 2018

Petani Nglurug Dewan, Ngadu Pengairan Sawah Tertutup Urugan Pabrik

  • Para petani yang mendatangi kantor dewan Brebes, ngadu soal pengairan sawah yang tertutup urugan pabrik sepatu di Desa Bangsri Kecamatan Bulakamba

BREBESNEWE.co – Sejumlah petani asal Desa Bangsri Kecamatan Bulakamba dan petani Desa Klampok Kecamatan Wanasari, Senin (15/10/2018) siang mendatangi Kantor Sekrtariat Dewan Brebes.

Mereka adalah puluhan petani, yang sawahnya terdampak oleh pembangunan pabrik sepatu, yang rencananya akan berdiri di wilayah Desa Bangsri.

Mereka dengan didampingi mahasiswa Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) mengadu, agar proses pembangunan pabrik dihentikan karena tak mengindahkan kondisi saluran irigasi pertanian.

Nenurut salah seorang petani, mereka dirugikan karena saluran irigasi yang mengairi sawah mereka diratakan, hingga menutup irigasi yang panjangnya kuranglebih 450 meter dengan lebar 3,5 meter.

Dengan tertutupnya irigasi yang telah ada, para petani khawatir sawahnya akan kebanjiran, karena tidak ada saluran pembuangan.

Perwakilan Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Tamrin (54) mengungkapkan, pengurukan saluran irigasi tersebut tanpa adanya kesepakatan dengan para petani yang akan merasakan imbas pembangunan pabrik, yang terletak di Jalan Pantura Desa Bangsri Kecamatan Bulakamba di RT 01 RW 01 tersebut.

“Dampaknya 100 hektar sawah di Desa Bangsri dan Desa Klampok akan mengalami kebanjiran. Kalau sawah sebelah timur pabrik saat musim hujan pasti kebanjiran karena tidak ada saluran pembuangan. Sementara sawah yang di sebelah barat pabrik akan kekurangan air karena tidak ada irigasi,” ungkapnya.

Para petani sebelumnya sudah mengadu terkait hal ini kepada salah satu anggota dewan.

Tak lama dari itu, para petani diminta menunjukkan saluran irigasi yang diratakan di lahan pabrik tersebut. Dalam inspeksi mendadak (sidak) bersama petani, saluran irigasi yang menghubungkan ratusan hektar sawah di Desa Bangsri dam Desa Klampok sudah rata dengan tanah.

“Beberapa hari lalu kami para petani langsung ke lokasi pembangunan pabrik. Saluran irigasi tersier sudah rata.

Kami minta Pemkab Brebes bertanggung jawab agar dilakukan penghentian pembangunan pabrik itu. Setelah itu, kami minta mahasiswa untuk mengawal perjuangan para petani untuk ngadu ke dewan,” tambah Tosirin.

Terkait dengan protes puluhan petani ini, lanjut Zaky, Komisi II DPRD Brebes akan menyampaikan kepada pimpinan. Kemudian, pihaknya akan memanggil dinas terkait untuk mempertanyakan peranannya dalam melakukan proses perizinan.

Karena pada dasarnya, izin prinsip hanya merupakan rekomendasi dari Pemkab bahwa wilayah itu boleh dibangun pabrik.

“Kami tampung semua keluhan petani dan secepatnya kami akan panggil dinas terkait,” tandasnya. (AFiF.A)

Posted in: Serba Serbi