By 26 November 2018

Bupati Kulon Progo ke Brebes, Sosialisasikan Bahaya dan Mahalnya Pengobatan Dampak Merokok

Bupat Kulonprogo DIY Hasto foto bareng dengan Wakil Bupati Brebes Narjo usa pertemuan pembahasan sosalisas kawasan tanpa rokok

BREBESNEWS.co – Audiensi dalam rangka Kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Perda tentang ‘ Kawasan Tanpa Rokok ‘, Ketua Aliansi Bupati/Walikota Peduli Kawasan Tanpa Rokok Bupati Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istmewa Yogjakarta, dan rombongan tiba di Kabupaten Brebes, Jumat (23/11/2018) kemarin.

Rombongan diterima langsung oleh Wakil Bupati Brebes Narjo bersama jajarannya di Pendopo Kabupaten.

Acara ini dihadiri lebih kurang 40 undangan yang terdiri dari Kepala OPD atau yang mewakili, perwakilan dari organisasi kemasyarakatan, serta tokoh masyarakat.

Dalam acara ini, hadir pula Tim Kementerian Kesehatan RI yang diwakili oleh dr Farina Andayani Msc (Kasi Paru Kronik Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular), Ketua Aliansi Bupati/Walikota Peduli Kawasan Tanpa Rokok dr Hasto Wardoyo SPOG (Bupati Kabupaten Kulon Progo), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Rini Kusumasari Skm, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dr Bambang Haryatno, Achmad Fauzi Noor, Kabid P2 Dinas Kesehatan Kab. Brebes Khambali Skm MKes.

Dalam kesempatan ini, Ketua Aliansi Bupati/Walikota Peduli Kawasan Tanpa Rokok yang sekaligus Bupati Kabupaten Kulonprogo dr Hasto Hardoyo SPOG menyampaikan dalam paparannya, mengatakan sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok atau KTR dan Pengendalan Penyakt Tdak Menular (PTM) ini dalam rangka mengajak kabupaten dan kota di Indonesia, untuk secara bersama-sama melakukan pencegahan terhadap risiko yang diakibatkan oleh rokok.

Ia menjelaskan saat ini Indonesia menghadapi ancaman serius akibat peningkatan jumlah perokok, terutama kelompok anak-anak dan remaja.

“Peningkatan perokok pada remaja usia 15-19 tahun mencapai dua kali lipat dari 12,7 persen pada 2001 menjadi 23,1 persen pada 2016,” ungkapnya.

Bahkan hasil Sirkesnas 2016 memperlihatkan bahwa angka remaja perokok laki-laki telah mencapai 54,8 persen. Dikatakannya, di Kulonprogo saja belanja rokok mencapai Rp 96 miliar per tahun.

Hal ini menempati urutan kedua setelah padi-padian.

“Padahal untuk membiayai berobat ke puskesmas gratis saja hanya membutuhkan subsidi kesehatan atau anggaran kurang lebih Rp 18 miliar dalam setahun,” ujar Hasto.

Hasto mengaku merasa heran justru warga miskin saat ini cenderung hidup boros , ‘nggaya’, serta mengomsumsi rokok.

“Oleh sebab itu, kedatangan kami di Kabupaten Brebes ini untuk silaturahim, sosialisasi, dan diskusi. Kita bawa draf dari sini, biar saling belajar, karena saat ini baru 100 kabupaten/kota dari 515 kabupaten/kota di Indonesia yang punya regulasi tentang KTR,” ujarnya.

Selain itu, Hasto menyampaikan ada daerah yang sudah punya perda, tetapi belum tertuang dalam perwal/perbup.
Ia pun mendorong bupati/wali kota untuk peduli terhadap generasi muda terhadap bahaya rokok dengan penerbitan Peraturan Wali Kota (Perwal) atau Peraturan Bupati (Perbub) di daerah masing-masing. (AFiF.A)

Posted in: Serba Serbi