By 20 November 2018

Kirab Ganti Kelambu Makam Syeh Junaedi Warnai Peringatan Bulan Maulud Nabi

Bupati Brebes Idza Priyanti (baju merah) bersama para punggawa warga Randusanga wetan Kecamatan Brebes, saat di makam Syeh Junaedi

BREBESNEWS.co – Komitmen Pemerintah Kabupaten Brebes menggali dan mengembangkan segala potensi wisata yang ada, baik wisata alam maupun wisata religi. Hal tersebut terus diupayakan Pemkab Brebes melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Terkait Makam Syekh Junaedi, makam yang merupakan situs bersejarah ini mampu menjadi primadona wisata religi yang dapat dimanfaatkan untuk acara keagamaan dan ziarah.

Demikian disampaikan Bupati Brebes Idza Priyanti usai mengkuti Kirab Kelambu Makam Syekh Junaedi di Desa Randusanga Wetan, Kecamatan Brebes. Selasa (20/11/2018).

Harapannya wisata religi ini, juga dapat mendorong sektor pariwisata melalui seni dan budaya yang ada di Kabupaten Brebes.

“Pemkab Brebes akan melakukan pemugaran di komplek makam dan akses menuju makam. Untuk masalah anggaran pemugaran sudah masuk dalam perencanaan, pemugaran makam Syekh Junaedi di APBD 2019,” tandas Idza.

Bupati Brebes juga mengucapkan terima kasih serta apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta kirab.

Kirab Ganti Kelambu selain memperingati bulan Maulud Nabi, juga dalam rangka haul Syekh Junaedi Al-Baghdadi yang ke 274.

“Kirab ganti kelambu merupakan upaya mempertahankan tradisi dan budaya, khususnya tradisi pesisir pantura,” pungkasnya.

Kirab diikuti ratusan warga Desa Randusanga Wetan, diantaranya PKK, Fatayat NU, serta anak-anak sekolah.

Ada juga yang membawa hasil pertanian, perikanan, dan kelambu yang akan diserahkan Bupati Brebes kepada juru kunci makam.

Kirab dimulai dari Sekolah Dasar Negeri Randusanga Wetan menyusuri jalan desa sampai ke makam Syekh Junaedi yang berada di tengah-tengah tambak ikan.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes Wijanarto menyampaikan, kirab ini termasuk festival budaya yang menarik.

“Selain merayakan Haul Syekh Junaedi, tradisi ini dapat mengikatkan masyarakat untuk saling remojong gambaran dari kegotongroyongan dan keanekaragaman budaya Kabupaten Brebes,” ucap Wijanarto.

“Tujuannya untuk menghikmati proses sejarah daerah di Indonesia yang kompleks dan tidak linier, dan banyak mengandung nilai-nilai keislaman,” tambahnya.

Prosesi pawai acara kirab ganti kelambu makkam Syeh Junaedi di Desa Randusanga Wetan

Sekilas tentang Syeh Junaedi

Menurut cerita Juru Kunci Makam Syekh Junaedi Syakhur Romli, Syekh Junaedi merupakan salah satu ulama penyebar islam di wilayah Kabupaten Brebes, Khususnya di wilayah pesisir.

Sosok beliau di perkirakan hidup satu masa dengan Walisongo, dan makamnya berada di Desa Randusanga Wetan Kecamatan Brebes.

Asal usul Desa Randusanga beriringan dengan keberadaan Makam Syekh Junaedi. Syekh Junaedi dipercayai berasal dari Baghdad.

Kedatangan beliau ke Randusanga konon setelah wilayah itu ditinggalkan Walisongo ke Cirebon. Pernah singgahnya Walisongo itu yang menjadi asal usul nama Randusanga.

Randusanga itu berasal dari randu dari kata randa, artinya bekas. Sedangakan sanga berarti sembilan. Jadi Randusanga berarti bekas musyawarah Walisanga.

Randusanga disebut bekas musyawarah Walisanga, sebab saat Syekh Junaedi datang, Walisanga sudah berangkat, tinggal bekasnya saja.

Seiring perkembangnnya Desa Randusanga terbagi menjadi dua, yakni Desa Randusanga Kulon yang berarti Randusanga sebelah barat dan Desa Randusanga Wetan yang berarti Randusanga sebelah timur.

Tampak ikut menyaksikan Kirab antara lain Asisten 1 Sekda Brebes H Athoillah, para Kepala OPD, tokoh masyarakat, tokoh Agama dan masyarakat sekitar. (AFiF.A)

Posted in: Serba Serbi