By 8 July 2019

Sidang Lanjutan Pelawak Qomar ; Muhadi Beri Keterangan Saksi

Muhadi Setiabudi saat memberi kesaksian soal penipuan Surat Keterangan Lulus (SKL) Nurul Qomar di PN Brebes

BREBESNEWS.co – Sidang lanjutan, atau kedua kasus dugaan pemalsuan Surat Keterangan Lulus (SKL), dengan terdakwa pelawak yang juga mantan Rekror Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes, Nurul Qomar kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Brebes, Senin (8/7/2019).

Sidang ber-agendakan mendengarkan keterangan saksi-saksi korban, antaranya Ketua dan Pemilik Yayasan UMUS Brebes, Muhad Setiabudi, dan 3 Wakil Rektor UMUS yakni Maksori, Wadly dan Mukson.

Sidang dipimpin oleh ketua majelis hakim Sri Sulastuti dan didampingi dua hakim anggota masing-masing Dian Anggraini dan Nani Pratiwi.

Sementara, untuk pihak jaksa penuntut umum dipimpin Kasi Pidum Kejari Brebes, Bachtiar Ichsan Agung Nugroho.

Dalam persidangan, Muhadi yang menjadi saksi korban membeberkan kronologis ihwal diterimanya Nurul Qomar sebagai Rektor UMUS.

Dalam kesaksiannya, akibat perbuatan Qomar memalsukan SKL, pihak Universitas merasa dirugikan secara material 80 juta rupiah sebagai gaji, selama 9 bulan Qomar menduduki rektor.

Sementara untuk kerugian imaterial, berimbas pada kepercayaan publik kepada univesitas yang dikelolanya menjadi tidak dipercaya.

Muhadi yang juga Bos Dedy Jaya Grup ini menyesalkan ketidak jujuran Qomar, yang tidak bisa memenuhi tuntutan UMUS untuk bisa menunjukan ijazah S3 atau doktoralnya, setelah sekian lama menjabat sebagai rektor UMUS.

“Dengan perbuatan saudara Qomar berimbas pada universitasnya yang tidak bisa mewisuda mahasiswanya, karena setelah di konfirmasi oleh piihak kopertis tidak bisa menunjukan ijazah doktornya atau s3 nya,” ujar Muhadi.

Menurut Muhadi sebagai ketua yayasan saya hanya menerima calon rektor yang berijasah S-3, berinegritas dan jujur.

“Saya minta yang doktorĀ  atauĀ  profesor karena dosen di sini ada yang lulusan S-3 kenapa rektornya malah S-2. (seperti diketahui Nurul Qomar juga mempunyai ijazah S2 dengan jurusan Magister Managemen dari Universitas Krisnadwipayana Jakarta).

Bantah Buat SKL

Terdakwa Qomar saat diberikan kesempatan oleh majelis hakim menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi Muhadi ada yang benar dan banyak yang salah.

“Pertama, saya tidak pernah melamar menjadi Rektor Umus tapi diminta lewat telepon oleh Pak Mukhson (Wakil Pembantu Rektor UMUS). Saya juga tidak pernah dipanggil tiga kali oleh Ketua Yayasan Umus,” paparnya..

Terdakwa dalam kesempatan itu menerangkan pula kalau dirinya pernah komplain menyebutkan gelar doktor untuk menjadi rektor.

“Saya tidak pernah melampirkan SKL dimaksud. Bahkan SKL yang dimaksud baru diketahuinya saat berada di Polres saat penyidikan, saat dikejaksaan dan saat di Sidang PN. Saya membantah kalau ada pemalsuan SKL, karena saya tidak pernah membuatnya untuk keperluan syarat rektor di UMUS,” terang Qomar.

Terdakwa Qomar juga menuturkan, pada saat kepemimpinannya sebagai Rektor Umus telah memberikan hibah ke kampus dalam bentuk barang untuk UMUS senilai Rp 750 juta. Dana hibah tersebut diperoleh lewat jaringannya saat duduk di DPR RI.

Dalam sidang kesaksian korban tersebut, pihak saksi yakni Mukson belum bisa memberi kesaksian berhubung terbatasnya waktu sidang yang berjalan hingga pukul 16.00 WIB.

Sidang akan dilanjutkan pada tanggal 15 Juli atau Senin pekan depan.

Agenda sidang masih seputar keterangan saksi korban.(AFiF.A).

Posted in: Hukum