By 15 April 2021

Puluhan Emak-emak Desa Kupu Demo, Tuntut Kadesnya Mundur

Suasana demo warga Desa Kupu Kecamatan Wanasari tuntut kadesnya untuk mundur dari jabatannya

BREBESNEWS.co – Puluhan warga Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, yang didominasi emak-emak, mendatangi kantor balai desanya untuk menuntut agar kepala desa mereka, Ramli, turun dari jabatannya, Kamis (15/4/2021).

Warga menyatakan sudah tidak percaya lagi terhadap kepemimpinan Ramli, dikarenakan telah melakukan tindak asusila, yakni nikah siri dengan salah satu warganya sendiri yang berinisial D (28), seorang janda anak dua, pada awal Maret 2021 lalu, tanpa se-ijin istri sahnya, Munayah (40).

Berdasarkan informasi dari Danramil 03 Wanasari, Kodim 0713 Brebes, ada sekitar 40 orang warga setempat yang melakukan audensi di kantor balai desa. Mereka juga membawa spanduk atau kertas yang bertuliskan ungkapan kekecewaan terhadap kades mereka.

“Audiensi dipimpin oleh Ibu Kades dan pihak keluarganya,” ujarnya.

Setelah ditenangkan oleh Sekdes, Siswoyo, Babinsa Koptu Rudy, dan Bhabinkamtibmas setempat, serta Satpol PP Wanasari, kasus tersebut akan secepatnya dilaporkan kepada pihak kecamatan Wanasari.

Mendengar keputusan itu akhirnya massa membubarkan diri.

Munayah istri Kades menuntut pengunduran diri suamianya itu, menuturkan bahwa dirinya sudah pisah ranjang dan rumah sekitar satu tahun lalu.

Ia juga mengaku dicampakkan dan belum diceraikan secara resmi, padahal untuk pencalonan Ramli menjadi Kades tahun 2019 lalu, dirinya sudah berkorban materi dalam jumlah banyak.

Setelah pisah ranjang dan rumah setahun ini, Munayah tinggal di Indramayu, Jawa Barat, dengan membuka warteg untuk menyambung hidupnya bersama kedua orang anaknya. Sementara itu suamianya itu ketahuan sudah tinggal serumah dengan sirinya.

“Saya menuntut agar suami saya mundur dari jabatannya dan mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada keluarga besar saya selaku istri sah,” tegasnya.

Sedangkan Sekdes Kupu, Siswoyo, berharap permasalahan tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan secepatnya.

“Namun jika menemui jalan buntu baru dilaporkan kepada kecamatan atau pihak yang mempunyai wewenang,” ucap Siswoyo (AFiF.A)

Posted in: Serba Serbi