By 14 November 2021

Harga Bawang Terjun Bebas, ABMI Brebes : Stop Pengembangan Kawasan

Pengurus ABMI menggelar rakornas di Brebes menyikapi terjun bebasnya harga bawang merah di tingkat petani

BREBESNEWS.co – Merespon anjlognya harga jual bawang merah di tingkat petani yang han6lya Rp 6 ribu/ kg. Para petani yang bernaung dalam Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI-red)menggelar rapat koordinasi nasional di Brebes, Minggu (14/11/2021). Tujuannya, mengakomodir keluhan petani sekaligus mencari solusi konkret terkait permasalahan tersebut.

Ketua ABMI Pusat, Juwari menjelaskan, harga bawang merah saat ini semakin memprihatinkan karena terus merosot. Seperti harga bawang merah kualitas terendah atau grade C.

Semula, harganya mencapai Rp 15.000/ kg kini turun menjadi Rp 6.000/ kg. Kemudian, harga kualitas menengah grade B turun dari Rp 18.000/ kg menjadi Rp 8.000/ kg. Sedangkan, untuk harga kualitas super (grade A) turun dari Rp 23.000/ kg menjadi Rp 11.000/kg.

“Turunnya harga bawang di tingkat petani. Sudah terjadi sejak tiga pekan terakhir. Ini yang membuat kami mengalami kerugian, karena biaya produksi tidak sebanding dengan hasil panen,” ungkapnya.

Anjloknya harga bawang itu, lanjut Juwari, tidak hanya terjadi di Brebes. Namun, hampir merata sudah terjadi di seluruh sentra penghasil bawang merah di Indonesia. Artinya, persoalannya sudah terjadi secara nasional. Terlebih, saat ini seluruh sentra penghasil bawang merah sedang panen raya. Sehingga, menjadi pemicu harga bawang merah di pasaran menjadi terjun bebas.

“Demak, Pati, Majalengka, dan Nganjuk sedang panen raya. Akibatnya, stok melimpah tapi penyerapan hasil panen masih rendah termasuk sektor ekspor,” jelasnya.

Juwari menuturkan, selain sejumlah faktor tersebut biaya operasional petani dirasakan terus membengkak. Sebab, harga pupuk non subsidi terus naik mencapai 30 persen yang berdampak terhadap Break Event Point (BEP). Yakni, harga jual impas bawang merah yang ikut naik.

Padahal, selama ini petani bawang merah lebih banyak menggunakan pupuk non subsidi jenis NPK.

“Harga pupuk non subsidi saja makin gak masuk akal. Semula Rp 400.000/ sak, sekarang mencapai Rp 550.000/ sak. Sedangkan, BEP bawang merah semula Rp 13.000 sekarang naik menjadi Rp 13.800,” ujarnya.

Lebih lanjut Juwari mengatakan, petani bawang merah harus kembali digempur kenyataan target ekspor yang jauh meleset. Yakni, dari target 10 ribu ton pada 2021 tapi baru terealisasi sekitar 5 persen.

Artinya, penyerapan panen petani dari ekspor sangat sedikit. Berdasarkan hasil rakornas tersebut, terdapat sejumlah point yang telah disepakati para petani sebagai rekomendasi yang akan disampaikan ke Kementerian Pertanian dan terkait.

“Harapannya, melalui kebijakan yang dilakukan pemerintah harga bawang merah bisa terdorong naik. Beberapa point hasil rakornas tersebut di antaranya, pemerintah diminta mengurangi program pengembangan kawasan sentra bawang merah, karena saat ini produksi secara nasional mengalami surplus,” tandasnya.

(Al-Faruq)

Posted in: Ekonomi & Bisnis