By 9 January 2022

Profesor Lebanon di Brebes ; Radikalisme Lebih Berbahaya dari Covid-19

 

Dosen Global University Libanon Prof Dr As Sayyid Habib Thoriq Al Husaini dengan juru bicaranya saat mengisi seminar internasional di kampus STAI Brebes

BREBESNEWS.co – Dosen Global University Libanon Prof Dr As Sayyid Habib Thoriq Al Husaini menandaskan, bahwa virus radikalisme dan terorisme merupakan penyakit yang lebih berbahaya dari Covid-19.

Terbukti radikalisme dan terorisme selain membunuh teman sebayanya, keluarga, juga membawa petaka berupa kehancuran suatu negara.

Hal tersebut disampaikan Habib Thoriq saat menjadi pembicara pada Seminar Internasional “refleksi moderatisme Aswaja sebagai penangkal radikalisme dalam beragama di Islamic Center Brebes, Sabtu (8/1/2022).

Habib Thoriq mengkisahkan, di negara Etiopia telah terjadi seorang pemuda ekstrem yang menganut paham Wahabi rela membunuh ibunya, gara-gara ibunya memperingati Maulid Nabi.

Perilaku kejam tersebut dilakukan karena menganggap merayakan peringatan maulid Nabi hukumnya haram.

Maka dia wanti-wanti kepada peserta seminar untuk menjaga para pemuda, pemudi, anak-anak agar terhindar dari paham radikalisme dan terorisme. Antaranya dengan cara mempelajari dalil-dalil Ahlussunah wal jamaah (Aswaja) demi mencapai keselamatan bersama. Dengan keyakinan Aswaja maka akan berperilaku adil, moderat dan tidak semena-mena.

Thoriq juga menceritakan bagaimana kekuasaan Allah yang ditunjukan dengan perbedaan jari-jari manusia, yang tidak sama panjang. Cobalah dipikir-pikir, dengan perbedaan jari menjadikan kita mudah mengangkat beban, mengambil makanan, minuman dan aktivitas lainnya.

Coba bayangkan kalau jari Telunjuk dan Jempol sama panjangnya maka yang terjadi adalah kesusahan.

“Itulah kuasa Allah SWT yang ditunjukan didunia dengan perbedaan, jangan sampai kita memaksakan sesuatu agar sama semua,” tegas Habib Thoriq.

Senada, Wakil Bupati Brebes Narjo melihat paham radikalisme yang mengatasnamakan agama saat ini telah menjadi musuh bersama bagi hampir semua bangsa di dunia.

Radikalisme agama menjadi sebuah fenomena yang semakin marak dalam beberapa akhir tahun ini, bahkan berujung pada terorisme.

Narjo mengatakan pergerakan radikalisme sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan tidak ada tanda-tanda radikalisme akan surut.

“Sebaliknya, perkembangan terbaru tidak hanya menunjukkan bahwa radikalisme tetap menjadi masalah besar bagi dunia, tetapi masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan,” ucap Narjo.

“Salah satu indikasinya adalah kemunculan kelompok atau organisasi-organisasi keagamaan yang hobi menggunakan cara-cara kekerasan dalam menjalankan misinya. Lebih dari itu, buah nyata dari penyebaran radikalisme bisa dilihat dari aksi-aksi terorisme yang dilancarkan oleh para kelompok radikal tersebut.”

Kelompok Islam radikal, lanjut Narjo, kemudian banyak direspon oleh berbagai kalangan, termasuk oleh beberapa ormas Islam Indonesia.

“Salah satu ormas yang paling aktif dalam meng-counter paham radikal adalah Nahdlatul Ulama (NU). NU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia yang memiliki banyak pengikut dari kalangan tradisionalis yang masih setia menjaga tradisi-tadisi Islam,” ungkap Narjo.

Sehingga tidak mengherankan ketika kelompok Islam radikal menyerang tradisi-tradisi keagamaan Islam, maka NU sebagai “penjaga” tradisi berada pada barisan paling depan untuk melawan kelompok Islam radikal.

Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai paham ahlu sunnah wal jama’ah (Aswaja).

Ajaran Aswaja memiliki potensi untuk menjadi sarana membangun pemahaman islam yang inklusif dan moderat. Oleh karena itu, pentingnya menanamkan nilai-nilai aswaja, terutama bagi generasi muda melalui lembaga pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Brebes HM Rohidin M Hum menjelaskan, digelarnya seminar internasional untuk memberi pemahaman kepada para mahasiswa tentang Ahlussunah Wal Jamaah.

“Dengan tujuan, mereka akan memahami dengan wawasan internasional tentang pentingnya berkhitmah di NU yang berhaluan Aswaja. Sehingga terhindar dari paham radikalisme dan terorisme,” ucap Rohidin.

Turut mengikuti seminar, Plt. Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Khaerul Abidin, anggota NU, Ansor, Santri dari berbagai Pondok Pesantren, Mahasiswa STAI Brebes dan undangan lainnya.

(AFiF.A)

Posted in: Pendidikan