Bermodal Pinjaman Bank Rp 50 Ribu, Muhadi Setiyabudi Kembangkan Gurita Bisnisnya
BREBESNEWS.co – Bagi masyarakat Brebes nama perusahaan Dedy Jaya bukanlah suatu yang asing. Hal ini karena hampir diaemua tempat ada nama Dedy Jaya, baik berupa Oto Bus dengan nama Dedy Jaya, POM bensin dan hotel dengan nama Grand Dian ataupun Dedy Jaya.
Dibalik gegiatan usaha tersrbut ternyata tidak lepas dari kerja keras Owner Dedy Jaya yakni Haji Dr (HC) Muhadi Setyabudi.
Sosok pria dari Desa Cimohong Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes Jawa Tengah dan pemegang kendali CEO PT Dedy Jaya Grup yang menaungi perusahaan yang hingga kini tercatat 68 bidang usaha seperti PO bus, Hotel, Rumah Sakit, Kampus UMUS, POM Bensin, Perbankan dan lain sebagainya.
Dalam sebuah kesempatan jumpa Beliau dengan insan pers Btebes serta aktivis LSM, Sabtu (24/1/2026) malam di tempatnya Gran Dian Guci Tegal Beliaupun blak blakan membeberkan kisahnya. Bermula dari titik nol sebagai pengangguran lepas dari kondektur bus di era 90-an, kini sukses menggenggam ratusan unit bisnis dengan aset yang ditaksir mencapai ratusan milyar.
Berkat ketekunannya, di tahun 1992 ia bahkan sempat diundang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan Upakarti dan diberikan kembali ditahun 1994 langsung dari Presiden RI atas kontribusinya dalam ekonomi kerakyatan sebagai ‘Pemuda Pelopor’ dimana Prsidennya saat itu HM Soeharto
Bahkan kini oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pengusaha muda, ia dijuluki sebagai “Bapak Inspirator Bisnis”. utamanya di wilayah Pantura eks Karisidenan Pekalongan, dimana peruaahaannya berada dan bekembang di daerah itu.
Titik Terendah: Modal Pinjaman
Perjalanan suksesnya perusahaan yang didirikan tentunya tidak semanis yang dilihat sekarang.
Pada dekade tahun 1990-an, ia sempat mengalami masa sulit setelah berhenti bekerja sebagai kondektur bus, hingga menjadi pengangguran di tengah tuntutan hidup. Namun jiwa dan semangat nya untuk merubah nasib tidak membuatnya menyerah.
Dengan dukungan penuh sang istri, ia memberanikan diri meminjam uang sebesar Rp50.000—dengan jaminan sertufikat tanah di tahun 1980 an, yang jika dikonversi ke nilai mata uang saat ini berkisar Rp 2 juta.
Bermodal kecil itulah beliau gunaka untuk merintis usaha pertama sebagai penjual bambu.
”Dulu, kami hanya punya semangat dan doa. Modal 50 ribu itu kami putar dengan sangat hati-hati untuk jualan bambu. Istri saya adalah pilar yang paling kuat saat saya hampir menyerah,” kenangnya dj depan wartawan dan para aktivis LSM.
Seiring berkembangnya penjualan bambu, dia juga berpikir untuk membeli armada pengangkut bambu berupa 4 becak bekas yang dibeli du wilayah Adiwerna Kabupate. Tegal.
“Jadi saya dapat untung dua usaha sekaligus, selain keuntungan jual bambu juga sewa becaknya,” ucapnya mengenang perjuangannya.
Dari titik inilah usahanya berkembang hingga ia muali bisa beli beli, seperti truk, mobil bak L300 tambak dan lainnya.
Hingga iapun bis membeli bus perusaahan yang dianamakan PO Dedy Jaya respenyasi dari anak sulungnya Dedy Yon Supriyono yang kini jabat Walikota Tegal.
Nada Miring
Seiring kesuksesan yang melesat bak meteor tak jarang mengundang selentingan negatif. Seiring dengan kekayaannya yang naik drastis hingga memiliki ratusan aset, ia sempat diterpa isu tak sedap. Sebagian orang menuduhnya melakukan “pesugihan” atau cara instan untuk kaya.
Menanggapi hal tersebut, sang pengusaha hanya tersenyum ramah.
Ia menegaskan bahwa “pesugihan” yang ia lakukan hanyalah perpaduan antara kerja keras dan kekuatan spiritual.
”Kalau ditanya kuncinya apa, kuncinya adalah perjuangan suami istri yang saling menguatkan. Kami tidak pernah bosan memohon kepada Illahi. Doa dan kerja keras adalah kombinasi yang tidak akan mengkhianati hasil. Tidak ada cara instan, semuanya adalah proses panjang yang berdarah-darah,” tegasnya.
(AFiF.A)







