di Ujung Banjarsari Bantarkawung: Dedikasi Satu Guru, Nyalakan Api Sebelas Murid yang Harapan dan Perhatiannya Terputus
BREBESNEWES.co – Banjarsari, 3 Agustus 2026. Jauh di ujung atas Desa Banjarsari Kecamatan Bantarkawung terselip sebuah dusun terpencil bernama Pawangunan. Berada di dekapan kawasan perbukitan, akses menuju dusun ini bukanlah perjalanan yang mudah. Jalanan yang terjal, curam, dan belum memadai menjadi kawan sehari-hari warga setempat.
Kondisi geografis ini tak menjadi tantangan berat bagi masyarakat, tidak hanya dalam urusan mobilitas harian, tetapi juga dalam menjangkau akses layanan publik terutama pendidikan. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, denyut nadi pendidikan nyatanya tidak pernah benar-benar berhenti.
Di sudut Dusun Pawangunan, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menjadi saksi bisu perjuangan anak-anak perbukitan dalam menuntut ilmu. Tempat ini merupakan sekolah filial atau kelas jauh dari SDN 02 Banjarsari.
Jangan bayangkan gedung sekolah yang luas dengan fasilitas lengkap, sekolah ini hanya memiliki dua ruang kelas dan digawangi oleh satu-satunya pahlawan tanpa tanda jasa di sana yakni Ibu Linda.
Bu Linda, seorang guru honorer asal Paguyangan yang mendedikasikan dirinya untuk menjaga asa anak-anak Pawangunan agar tetap menyala. Menjadi ujung tombak sendirian tentu bukan hal yang mudah, namun ia selalu punya cara untuk memastikan hak belajar anak-anak tetap terpenuhi.
_”Cara mengajarnya, saya harus bergantian membagi waktu dan fokus antara kelas 1 dan kelas 2. Saya bolak-balik demi kelancaran proses belajar mengajar anak-anak ini. Tapi kalau fisik saya sedang tidak kuat atau jatuh sakit, ya terpaksa anak-anak diliburkan karena memang sama sekali tidak ada guru yang menggantikan,” tutur Bu Linda.
Waktu belajar di sekolah mungil ini terasa begitu berharga, berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 10.00 WIB. Ruang kelas itu dihuni oleh sebelas pahlawan kecil, delapan anak duduk di bangku kelas 1, dan tiga anak lainnya di kelas 2.
Meski serba terbatas, jangan pernah ragukan kilau di mata mereka. Anak-anak ini memiliki semangat belajar yang luar biasa dan rasa ingin tahu yang begitu tinggi.
Setiap lembar buku yang dibalik dan setiap materi yang disampaikan Bu Linda selalu disambut dengan antusiasme murni. Celoteh riang dan rentetan pertanyaan dari mulut kecil mereka seolah meruntuhkan sepinya perbukitan, membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tak pernah mampu membelenggu kebebasan pikiran dan semangat mereka untuk merajut mimpi.
Mirisnya, di tengah semangat dan rasa ingin tahu yang begitu menyala, perhatian dari luar masih terasa dingin.
Jangankan pembaruan fasilitas, program andalan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi hak setiap anak sekolah, nyatanya belum menyentuh tempat ini.
Medan yang teramat sulit seolah menjadi dinding pemisah, membuat pihak-pihak terkait enggan melangkah dan seakan tak mau menembus kerasnya perbukitan Banjarsari. Sebelas anak bersemangat ini pun hanya bisa menelan angan, seolah dibiarkan tertinggal dari hingar-bingar kepedulian yang dirasakan oleh anak-anak di daerah yang lebih mudah dijangkau.
Perjuangan mereka juga tak lantas menjadi lebih mudah setelah lulus dari kelas 2. Begitu melangkah ke kelas 3 hingga kelas 6, anak-anak tangguh ini harus menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang dan menantang untuk bergabung dengan sekolah induk di SDN 02 Banjarsari.
Bangunan sekolah filial di Pawangunan ini sudah berdiri cukup lama, bertahan melintasi waktu menahan laju zaman yang sering kali melupakan mereka yang berada di pelosok.
Kisah dari Dusun Pawangunan dan dedikasi tanpa batas dari seorang Bu Linda adalah sebuah tamparan sekaligus pelukan hangat bagi kita semua.
Mereka menjadi potret nyata bahwa di balik jalan yang curam dan keengganan pihak luar untuk peduli, selalu ada tunas-tunas bangsa yang haus akan ilmu dan individu yang rela berkorban demi merawat harapan tersebut. Dari sebelas pasang mata anak-anak Pawangunan, kita belajar bahwa selama masih ada ketulusan dan rasa ingin tahu, lentera pendidikan tidak akan pernah padam, segelap dan seterabaikan apa pun tempatnya.
(Oleh: Nafisa Rizka & Kelompok KKN STAI Brebes Desa Banjarsari 2026)








