BrebesNews.Co 31 January 2014 Read More →

Terhimpit Ekonomi Keluarga, 2 Bocah Desa Pamulihan Jadi Pengemudi Perahu Penyebrangan

perahuuu

BREBESNEWS.CO – Menjalani kehidupan di bantaran sungai sudah menjadi keseharian Zaenal (15) dan Maskur (13). Setiap harinya mereka menjadi tulang punggung Dusun Kalibanteng Desa Pamulihan Kecamatan Larangan sebagai Pengemudi Perahu, alat transportasi penyebrangan warganya.

Tangan yang mungil tetapi tampak kuat itu tiap hari harus menahan derasnya sungai Rambatan, yang membelah desa Pamulihan. Dengan sigap tangan mereka selalu memegang dan sesekali menarik tali besar yang menjalar kebantaran sungai, berfungsi sebagai pengait perahu agar tidak lepas kendali terbawa arus.

Zaenal, hanya lulus Sekolah Dasar alias SD. Seusai lulus SD karena tidak mempunyai biaya sekolah, setiap harinya bekerja menjalankan perahu untuk penyeberangan warga Desa Pamulihan, khususnya Dusun Kalibanteng. Pekerjaan penyeberangan dimulai pada pukul 05.30 WIB dan berhenti beroperasi pukul 17.30 WIB.

“Ya ,kalau perahu di jalankan pagi setelah subuh kira kira jam 05.30 WIB, hingga sore sebelum maghrib “ Tandas Zaenal di sela sela pekerjaannya melakukan menyebrangan bersama warga, Jumat pagi (31/1).

Selepas SD, Zaenal tidak bersekolah lagi ke jenjang SMP lantaran faktor ekenomi keluarga yang menghimpit. Dia terpaksa harus bergelut dengan derasnya arus sungai membantu beban ekonomi orang tuanya. Hasil pengemudi perahu penyeberangan, selain diberikan kepada orang tuanya, juga buat jajan dia sehari-hari .

“Lumayan duitnya buat membantu ibu dan jajan sehari-hari mas, “ tambah Zaenal.

Hal sama juga diungkapan Maskur (13) teman Zaenal, yang sama-sama menjadi pengemudi perahu penyeberangan. Setiap hari mereka lakukan proses penyebrangan berdua silih berganti memuat warga Dusun Kalibanteng ke Desa Rawa Lumbu, atau sebaliknya yang mau menyeberang untuk sebuah keperluan.

Dalam melakukan penyeberangan sebenarnya, tidak ada tarif, semuanya dikutip suka rela, karena Mereka tahu kondisi di Dusun Kalibanteng banyak warganya yang juga susah, karena ketidaktersediaan jembatan penghubung.

“Sebagai ucapan terima kasih, warganya memberikan uang sekadarnya, kadang ada yang ngasih seribu kadang ada juga dua ribu rupiah,” ungkap Maskur

Menurut Maskur Uang kemudian di bagi dua sama rata, karena hampir tiap hari mereka berdua melakukan kerjaan penyeberangan perahu.

“Gantian aja kalau capek yah istirahat dan uangnya juga di bagi rata kalau dapat banyak. Sehari biasanya dapat 50 ribu hingga 75 ribu rupiah, semuanya akan di bagi rata berdua,” ujar Maskur lagi.

Terik matahari tidak membuat mereka patah arang dan minder karena mereka melakukannya dengan hati yang senang dan tulus.

Andaikan perekonomian orang tuanya beruntung mungkin Zaenal Dan Maskur tidak susah-susah membantu orang tuanya dan bisa menikmati usia kanak-kanaknya dengan sekolah. (*)

* Berita kiriman Raeko Dhardirjo KPMDB Jakarta Asal desa Wlahar Larangan
Editor : AFIF ARFANI

Posted in: Serba Serbi