BrebesNews.Co 1 March 2014 Read More →

Janji Politisi

janji politika

* Oleh : Afif Arfani

Pemilihan Umum (Pemilu) sudah di depan mata. Secara jadwal akan diselanggarakan 9 April mendatang atau kurang lebih 40 hari lagi.

Pesta demokrasi 5 tahunan ini, boleh dikata sekarang mulai tambah ramai. Hal ini, mungkin karena sistem Pemilunya yang mulai berubah selama 2 dekade ini. Dari sistem proposional tertutup, ke proposional terbuka, di tambah dengan sistem suara terbanyak.

Bayangkan, kalau dulu bagi anggota dewan yang berada di nomor urut atas, atau istilahnya nomor peci, pasti kemungkinan besar jadi. Sedang caleg yang berada di urutan bawah atau nomor sepatu, jelas tidak akan jadi.

Tetapi sistem Pemilu sekarang belum tentu, baik nomor urut atas atau ‘nomor urut peci’, atau nomor urut bawah ‘nomor urut sepatu’, sama-sama mendapat peluang bisa melenggang ke rumah wakil rakyat asal bisa menangguk suara terbanyak.

Makanya dengan sitem politik sekarang, lamanya kader poltik pada suatu partai tidak menjamin bisa sukses. Belum lagi banyak partai bentukan baru, era pasca reformasi yang timbul tenggelam. Untuk tahun sekarang saja (2014) yang akan berkompetisi ada 12 partai politik yang lolos Verifikasi, dan bisa berkompetisi di Pemilu mendatang.

Yang jelas buah dari sistem partai sekarang ini, para calon legislatif bisa lebih cepat sukses (Instant) tanpa harus melewati kaderisasi yang panjang seperti pada masa-masa orde baru lalu.

Janji Politisi

Politisi dan sebuah janji, bak sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Boleh jadi janji dalam bidang politik seperti sebuah proses marketing untuk menggaet konsumen pada bidang pemasaran. Kalau janji itu bisa masuk ke wilayah pemikiran orang dan memengaruhi, sudah barang tentu sang konsumen (pemilih-red) bisa memberikan apresiasinya dengan mencoblos partai berikut sang politisi yang bersangkutan.

Penulis ingat perhelatan Pemilu 5 tahun lalu. Saat itu ada seorang petinggi partai yang berkampanye di Brebes (daerah penulis-red). Sebagai kabupaten pengahasil bawang merah, tidak ada lain yang di omongkan sang politisi tersebut dalam janji kampanye-nya. ” Kalau partai saya menang, saya akan usahakan harga bawang naik, hingga petani sejahtera.”

Al-hasil meski partai pengusung yang bersangkutan meski tidak menang, tapi karena hasil koalisi menjadikannya sebagai petinggi negara (Menteri). Namun sayangnya politisi tersebut hanya duduk berlainan departemen. Lalu apanya yang akan diperjaungkan untuk harga bawang (?) toh, dengan sejuta alasan sang petinggi partai tersebut mengungkapkan kalau dirnya bukan menteri yang ngurusi petani dengan segala hasilnya, tapi justru ngurusi TKI, nah lho.. ?

Masih peristiwa 5 tahun lalu, dan peristiwanya di Brebes. Ada politisi pusat-juga menyampaikan, kalau dirinya terpilih sebagai legislatif dan duduk di senayan, akan perjuangkan nasib guru serta pegawai negeri honorer atau pegawai kontrak tidak tetap (PTT) agar kehidupnnya bisa lebih baik dan sejahtera.

Al-hasil politisi tersebut pun jadi dan kini duduk di kursi empuk senayan. Namun, apa daya di kursi parlemen dia duduk di komisi yang bukan yang ngurusi bagian kesejahteraan guru,PNS atau lainnya. Dengan berbagai upaya-pun dia akan ‘ngeles’ bila di tagih konstituen mewujudkan janji-janjinya.

Janji politisi dan ancamannya

Janji Politisi memang gurih kedengarannya dengan segala keunikannya. Untuk janji politisi ke tim sukses yakni soal tidak lepas dana aspirasi dengan iming-iming proyek bila sang poltisi berhasil jadi dewan.

Sementara untuk janji politisi ke pemilih (masyarakat) dari soal akan di janjikannya pembangunan infrastruktur hingga ke pemenuhan kesejahteraan masyarakat.

Janji memang sedang jadi trend bagi politisi yang sebentar lagi akan berkompetisi. Padahal janji bagaimanapun harus bisa diwujudkan secara nyata. Seperti juga dalam pameo -Janji adalah hutang.
Dalam teks Quran soal janji juga di ulas di surah Al-Isra, bunyinya;

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.’ QS. Al-Isra’: 34.

Al-Bukhari dan Muslim juga menyebutkan dalam sabda nabi Muhammad SAW, yang menyebutkan soal janji

“Empat (prilaku) kalau seseorang ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai, melampau batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai dia meninggalnya.” (HR. Bukhari, 3178 dan Muslim, 58)

Seruan diwajibkannya pemenuhan janji oleh kitab suci Al-Quran, serta sabda nabi Muhammad SAW diatas ini dijelaskan terdapat balasan yang akan diterima bagi orang pengumbar janji, yang tidak konsekwen dengan perbuatannya.

Janji, memang mudah diucapkan, namun susah untuk diterapkan. Semoga masyarakat Brebes tetap waspada dan tidak larut dalam janji politisi yang menjebak. Terlebih janji busuk dari politisi busuk.

Silahkan memiilih dengan nalar yang jernih. (*)

Penulis adalah redaktur BREBESNEWS.CO

Posted in: Opini