BrebesNews.Co 12 August 2014 Read More →

Proyek PLTU Batang Lirik Kabupaten Brebes

idza

Idza Priyanti, SE

BREBESNEWS.CO- Sesuai informasi yang dihimpun, proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang di Jawa Tengah merupakan proyek yang dipersiapkan untuk mengatasi krisis listrik tahun 2018. PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara ini menelan investasi sebesar lebih dari Rp 30 Triliun dan pada awalnya diperkirakan beroperasi komersial (Commercial Operation Date/COD) pada akhir 2016.

Namun, karena terkendala dengan pembebasan lahan, belakangan diisukan akan dipindahkan ke lokasi lain mengingat masih ada 13% lahan yang belum bisa dibebaskan, sehingga kini belum ada realisasi yang pasti.

Wacana kekisruhan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang Jateng membuat pemerintah pusat dan pihak investor melirik sejumlah daerah menjadi tempat alternatif pengganti. Selain Kendal, Kabupaten Brebes juga diwacanakan untuk menjadi tempat PLTU tersebut.

Hal ini akan menunggu kepastian kelanjutan proyek besar tersebut.”Kami akan berkoordinasi dan mengupayakan membahas dengan SKPD terkait dan lobi ke Pemerintah Pusat maupun Provinsi.Brebes bisa jadi alternatif,untuk proyek PLTU” ujar Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE saat usai menghadiri paripurna DPRD setempat, Selasa (12/8/2014).

Sementara,menanggapi hal itu Fraksi Gerindra Hanura dan Kebangsaan (FGHK) DPRD Brebes mendorong Bupati agar lebih proaktif kepada Pemerintah terkait dengan mandegnya rencana pembangunan PLTU di Batang akibat terkendala pembebasan lahan.

Sekretaris FGHK, Waidin beranggapan dengan adanya penawaran agar Brebes menjadi alternatif pembangunan PLTU itu diharapkan bisa menjadi salah satu opsi dari pihak perencana. “Disamping itu juga secara investasi dan perekonomian daerah, akan menguntungkan Kabupaten Brebes,” harap Waidin.

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah proyek hasil kerjasama pemerintah dan swasta (Public Private Partnership / PPP) sehinggamenjadi tanggung jawab pemerintah. Proyek senilai US$ 4 miliar tersebut terbagi dalam dua kategori lahan, yakni lahan seluas 226 hektare (ha) untuk Power Block, dan 100 ha untuk jaringan transmisi dan gardu induk. (HENDRIK)