BrebesNews.Co 17 April 2015 Read More →

Pendidikan Seks Usia Dini, Ikhtiar Cegah Pelecehan Seksual Anak

1842092shutterstock-175158260780x390

Oleh : Nihayatul Jazilah
(Mahasiswa  UPI Bandung asal Sitanggal Brebes)

Kejahatan selalu ada, kebaikan selalu ada, dan pilihan selalu ada. Sebuah kalimat bijak yang sering dilontarkan sebagian orang dalam menanggapi berbagai fenomena kehidupan.

Pilihan tersebut tentunya akan berdampak pada kemaslahatan dirinya dan orang disekitarnya. Sejalan dengan itu, kita sering mendengar istilah kriminalitas yang merupakan salah satu bentuk tindak kejahatan.

Pelaku kriminalitas adalah siapa saja yang memiliki kepentingan tertentu terhadap orang lain dengan cara melawan hukum.

Sedangkan korban kriminalitas adalah mereka yang dijadikan obyek kepentingan para pelaku yang sasarannya tidak hanya orang dewasa, melainkan juga anak-anak.

Kasus pelecehan seksual anak

Bentuk tindak kejahatan terhadap anak yang akhir-akhir ini terjadi dan menjadi wacana di berbagai media adalah kasus pelecehan seksual anak. Tentu kita masih ingat tentang kasus sekolah TK JIS  (Jakarta International School), beberapa siswanya mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh pesuruh sekolah dan bahkan pada penyelidikan lebih lanjut menyeret beberapa guru di sekolah tersebut.

Pelecehan seksual pada anak adalah segala tindakan seksual terhadap anak termasuk menunjukkan alat kelamin ke anak, menunjukkan gambar atau video porno, memanfaatkan anak untuk hal berbau porno, memegang alat kelamin, menyuruh anak memegang alat kelamin orang dewasa, penetrasi vagina atau anus anak, baik dengan cara membujuk maupun memaksa. Pelecehan seksual bisa menimpa siapa saja, baik terhadap anak lelaki ataupun anak perempuan.

Megutip penuturan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, (Arist Merdeka Sirait) usai acara Deklarasi 2500 Anak Jawa Tengah Menentang Kekerasan Terhadap Anak di CFD Semarang Jalan Pahlawan, Minggu [5/4/2015] dalam harian Detik News beberapa waktu lalu mengatakan ada sekitar 21 juta anak-anak di Indonesia yang mengalami kekerasan, 58% diantaranya mengalami kejahatan seksual.

Sementara itu untuk Jawa Tengah, masuk urutan ke-18 dengan jumlah kekerasan terhadap anak terbanyak. Oleh sebab itu perlu adanya gerakan yang mendesak pemerintahan provinsi, kabupaten atau kota supaya bergerak dan membuat menjadi wilayah ramah anak.

Pelecehan seksual anak bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Ironisnya, kasus-kasus pelecehan seksual ini justru lebih sering terjadi dilingkungan terdekat anak, seperti dilingkungan rumah, sekolah, maupun tempat bermain anak. Bahkan pelakunya adalah orang yang seharusnya melindungi mereka, seperti orang tua, saudara, bahkan guru.

Pendidikan seks sejak dini

Paradigma pendidikan seks untuk anak masih dianggap tabu dikalangan masayarakat. Sebagian berpendapat bahwa pendidikan seks untuk anak masih terlalu dini dilakukan melihat perkembangan psikologi anak untuk usia 2-10 tahun, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, labil dan cenderung mencoba-coba.

Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang mendukung pendidikan seks sejak dini diterapkan sebagai cara untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anak terkait maraknya kasus tersebut dikalangan masyarakat belakangan ini.

Hasil survei dari 20 orang dengan latar belakang yang berbeda, 15 diantaranya setuju jika pendidikan seks sejak dini diterapkan untuk mencegah pelecehan seksual, dengan mempertimbangkan hal-hal berikut.

Pertama, Pengoptimalan fungsi keluarga dalam pendidikan seks anak, sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama.

Kedua, Pendidikan agama perlu di optimalkan dan dijadikan sebagai landasan utama dalam mengajarkan pendidikan sex anak.

Ketiga, Pendidikan seks dimulai dengan hal-hal kecil dengan batasan-batasan sesuai tahap perkembangan psikologi anak,
misalnya menanamkan rasa malu sejak dini, tidak membiasakan anak untuk memakai pakaian yang terlalu terbuka karena bisa menjadi rangsangan tindakan pelecehan seksual.

Mengenalkan perbedaan laki-laki dan perempuan sejak dini, mengajarinya membersihkan alat kelamin dengan benar setelah buang air kecil maupun buang air besar sendiri. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain menyentuh alat kelaminnya.

Keempat, Pendidikan sex akan lebih optimal jika disampaikan oleh para ahli dibidangnya, seperti dokter atau psikolog anak.

Pencegahan Pelecehan Seksual Pada Anak

Perlu adanya sinergisitas antara pemerintah, kepolisian, dan masyarakat dalam penanganan pelecehan seksual anak, pihak pemerintah baik provinsi, kabupaten/kota seharusnya menjamin daerahnya sebagai wilayah ramah anak, misalnya dengan membentuk Gerakan Perlindungan Anak (GPA) sampai ke tingkat RT atau RW.

Pihak kepolisian seharusnya punya langkah konkret untuk menjamin keamanan anak, memberikan hukuman yang seadil-adilnya terhadap pelaku kekerasan dan pelecehan seksual anak. Selain itu pihak masyarakat juga harus berperan aktif dalam mencegah kasus kekerasan dan pelecehan seksual anak, salah satunya dengan melindungi anak-anak dari informasi dan tontonan terkait pornografi dan kekerasan.

Terlepas dari itu semua, fakta selama ini menunjukkan, tidak ada tempat yang benar-benar aman buat anak-anak, sehingga perlu adanya kewaspadaan dari semua pihak termasuk ber-iktiar dengan melakukan pendidikan seks di usia dini. (*)

Posted in: Opini