BrebesNews.Co 29 April 2015 Read More →

Santri dan Tantangan Globalisasi

santri

Oleh: Moh. Nurrohman, S.Pd

(Alumni Pon-Pes Al-Hikmah Benda Sirampog, Asal Limbangan Kulon Brebes)

Salah satu kunci meraih kemajuan di era globalisasi seperti sekarang ini adalah peningkatkan kualitas sumber daya manusia. Betapapun suatu bangsa memiliki potensi sumber daya alam melimpah, akan tetapi, potensi ini tidak dapat diandalkan.

Kini kunci tersebut terletak pada kualitas sumber daya manusia dengan penguasaan ilmu dan teknologi.

China misalnya, meskipun tidak didukung sumber daya alam yang melimpah tapi nyatanya china bisa menjadi negara maju, mengalahkan negara-negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah seperti Indonesia.

Demikian halnya dengan Jepang, Korea dan Singapura, mereka kini menjadi penguasa-penguasa teknologi dan ekonomi dunia, melebihi negara-negara Eropa dan Amerika.

Bagaimana denagn Indonesia yang katanya surganya dunia. Segala macam kebutuahan manusia ada, dari mulai pertambangan, prtanian minyak, sayuran, semua ada, namun Indonesia masih tetap berjalan di tempat, untuk tidak mengatakan mundur.

Padahal kalau dilihat dari jumlah penduduknya Indonesia menempati peringkat kempat setelah China, India, dan Amerika. Lagipula Indonesia juga menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, yang seharusnya bias memberikan andil besar dalam menjunjung keagungan agamanya.

Umat Islam dan penguasaan tekhnologi

Sebagimana diketahui, Islam mengajarkan umatnya untuk bisa menjadi Al-Muslim Al-Qawiyyu Al-Amin, artinya muslim yang punya kekuatan, ketrampilan, intelektual, profesionalisme, dan memiliki sifat Al-Amin, yaitu dapat dipercaya dan senggup mengemban amanat dengan jujur dan adil.

Mengusai ilmu pengetahuan teknologi sejatinya menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim. Bagaimana Islam dapat di hargai oleh bangsa-bangsa kalau peradabannya masih terbelakang.

Tidakkah kita membaca sejarah permulaan Islam, di mana Islam begitu dipuja dan di sanjung oleh orang-orang Eropa berkat kemajuan peradabannya yang kala itu maju pesat di Baghdad dan Spanyol – yang kala itu begitu maju berkat kegigihan Muawiyah bin Abi Sofyan – sedangkan Eropa masih terbelakang. Bahkan Eropa pun mengakui bahwa Islam memberikan andil besar dalam pencerahan bangsa-bangsa eropa (renainsance).

Tapi, disadari atau tidak, umat Islam sampai saat ini belum bisa bangkit dari keterpurukan. Di saat bangsa-bangsa lain berhasil menciptakan penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan, Islam malah sibuk dengan perdebatan-perdebatan seputar agama. Seolah-olah Islam hanya berkutat di bidang agama, padahal Islam adalah agama yang menjunjung tinggi peradaban, dalam pengertian Islam seharusnya merajai segala bidang peradaban dunia.

Akankah muslim akan terus tidur dan berdiam diri, dan hanya membanggakan kisah-kisah keemasannya?, siapa yang akan membangun Islam kalau tidak kita sendiri yang membangunya.

Bahwa, Eropa dan Amerika maju memang, tetapi dalam bidang ketuhanan mereka cenderung buta, maka dari itulah kita harus dapat mengambil pelajaran dari mereka, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi pernah berkata:

Orang-orang eropa telah berhasil menembus langit, lautan dan daratan tapi mereka tidak dapat menembus puncak kehidupan yaitu beriman kepada sang pencipta.

Maka dari itulah, kita sebagai muslim harus tidak kalah dengan mereka meski kita juga harus tetap dalam keimanan…Wallahu’alam.(*)

Posted in: Opini