IKLAN CUKAI DINKOMINFOTIK KAB.BREBES
BrebesNews.Co 6 May 2016 Read More →

Brebes dalam Pusaran Berita Nasional

1560660_759300400764829_598974684_n

Kaserin
Alumni Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gajah Mada
Warga Luwunggede Larangan Brebes

Berita mengenai seorang oknum PNS Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Brebes yang meminta uang 10 juta rupiah kepada seorang remaja yang menggantikan ayahnya sebagai petugas penyapu pasar pertama kali saya baca di laman BREBESNEWS.CO dan esoknya ternyata berita tersebut juga muncul di laman sebuah media berita online nasional.

Bahkan tanggal 30 April 2016 ada sebuah stasiun televisi nasional yang melakukan wawancara langsung dengan korban (Mas Lanang). Secara otomatis berita tersebut dibaca oleh netizen yang lebih luas dari berbagai daerah di Indonesia yang ikut mengomentari berita yang bisa dikategorikan negatif tersebut. Bahkan ada netizen yang sepertinya warga Brebes membagikan tautan berita tersebut menyebutnya sebagai hal yang mempermalukan dan mencoreng nama Kabupaten Brebes.

Tercatat sejak 2016 nama Kabupaten Brebes muncul dalam berita-berita di laman media online berskala nasional yang menarik perhatian masyarakat khususnya pengguna media sosial. Namun sayangnya berita-berita yang muncul bukan berita mengenai prestasi pembangunan daerah Kabupaten Brebes atau prestasi yang diukir putra putri Kabupaten Brebes.

Berita yang muncul malah cenderung dianggap oleh netizen atau publik membuat citra jelek. Hal ini bisa dilihat dari komentar atau tanggapan negatif terhadap peristiwa yang terjadi di media sosial.

Berita pertama terjadi di bulan Maret 2016 ketika seorang guru honorer di Brebes ditangkap Polda Metro Jaya karena mengancam Menpan dan RB Yuddy Chrisnandi.

Selama sekitar seminggu berita tentang kasus ini wira wiri di laman berita media online nasional dan stasiun televisi nasional sampai kemudian kasusnya dihentikan setelah sang menteri memaafkan sang guru honorer.

Netizen dan publik sebagian besar menyayangkan bahasa pengancaman yang dikeluarkan sang guru honorer sebagai bahasa yang tidak sepatutnya dikeluarkan oleh seorang pendidik yang harus menjadi suri tauladan dalam tindakan dan perkataan baik di lingkungan tempat mengajarnya maupun di lingkungan masayarakat tempat tinggalnya.

Masih di bulan Maret ada berita yang cukup mengejutkan bagi warga Brebes dan sempat terekspos di media nasional yaitu kasus sebuah keluarga di Desa Slatri Kecamatan Larangan yang sehari-hari makan nasi aking.

Ada beberapa hal yang bisa digambarkan dari kasus tersebut yaitu menggambarkan kondisi real angka kemiskinan di Kabupaten Brebes yang masih tinggi. Selain itu kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan kinerja RT, RW, dan Kepala Desa sehingga kejadian seperti itu bisa terjadi sekaligus menunjukkan bahwa para pejabat baru bergerak ketika hal tersebut diblow up media.

Berita selanjutnya yang memunculkan nama Kabupaten Brebes di kancah berita nasional adalah kunjungan Presiden Jokowi ke Kabupaten Brebes tanggal 11 April 2016 dalam rangka meresmikan program ekonomi kerakyatan berbasis agrobisnis bawang merah yang dinamakan Program Sinergi Aksi untuk Ekonomi Rakyat.

Dipilihnya Kabupaten Brebes sebagai tempat peresmian program tersebut karena merupakan daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia namun di sisi lain para petaninya mengalami kesulitan dan kesenjangan ekonomi

Selama ini Brebes dikenal oleh publik sebagai kota penghasil bawang merah terbesar di Indonesia dan penghasil telor asin. Untuk hal lain di luar produk barang bisa jadi publik mengetahui Brebes karena setiap tahun di saat arus mudik dan balik Lebaran ada beberapa titik (Pintu Tol Pejagan, Pertigaan Pejagan, Pertigaan Pasar Dermoleng Ketanggunagn) selama dua minggu menjadi tempat/ titik reporter stasiun televisi nasional melaporkan situasi arus kendaraan arus mudik atau arus balik dari dan ke Jakarta.

Selain tentang hal-hal tersebut bisa dikatakan Kabupaten Brebes nyaris merupakan daerah yang sepi dari pemberitaan tentang prestasi. Tidak ada pemberitaan tentang kepala daerah yang berprestasi misalnya atau tentang birokrasi bebas pungli yang tidak berbelit karena memang dua hal tersebut belum dimiliki Kabupaten Brebes.

Berita yang ada malah ada Bupati Kabupaten Brebes periode sebelumnya yang masuk penjara karena tersangkut korupsi. Berita mengenai putra asli Brebes yang menjadi menteri di Kabinet Kerja Presiden Jokowi rasanya masih kalah gaung dengan kesan yang dirasakan warga di luar Brebes yang ketika masa liburan panjang atau mudik Lebaran merasakan sensasi melewati jalan penuh lubang sepanjang jalur Pejagan-Ketanggungan-Klonengan.

Setiap warga Brebes pasti menginginkan ketika ada berita yang muncul dan membawa nama daerahnya merupakan berita yang baik atau positif. Berita tentang sebuah prestasi yang membawa kebanggaan tersendiri bagi warganya.

Ketika Bapak Sudirman Said masuk dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi sebagai Menteri ESDM kita bisa melihat di media sosial begitu banyak ungkapan kata-kata bangga dari warga Brebes mengomentari prestasi tersebut.

Bisa jadi sebagai warga Brebes kita juga merindukan ada pemimpin daerah Brebes yang berprestasi yang akan tampil di acara televisi nasional semacam Mata Najwa atau Hitam Putih yang akan dengan bangga menjelaskan terobosan-terobosannya membangun Kabupaten Brebes.

Sitidaknya ada tokoh yang bisa menjelaskan bagaimana dia menata birokrasi menjadi birokrasi yang singkat padat dan cepat serta transparan tanpa embel-embel Ujung-ujungnya Duit, membangun SDM sehingga IPM-nya tidak lagi berada di urutan paling buncit di Provinsi Jawa Tengah.

Adalah menjadi tugas kita semua sebagai warga Kabupaten Brebes, baik birokrat maupun warga sipil untuk menjaga nama baik dan citra daerah. Birokrat sesuai kewajibannya harus menciptakan kebijakan dan peraturan yang membawa kemajuan dan kemudahan bagi semua, baik untuk warga Brebes sendiri maupun bagi warga luar Brebes yang ingin berinvestasi di wilayah Brebes.

Warga sipil juga berkewajiban bertindak sesuai dengan nilai dan tata nilai bermasyarakat dan bernegara sambil selalu berkarya sesuai pekerjaannya demi terciptanya iklim bermasyarakat yang kondusif.

Jika belum bisa berbuat kebaikan setidaknya jangan berbuat kejelekan. (*)

Posted in: Opini