BrebesNews.Co 12 May 2017 Read More →

Khaul ke 28, Buku ‘ Damar Peradaban ‘ KH Ahmad Tarsyudi Jatirokeh Dibedah

Acara bedah buku KH Ahmad Tarsyudi Jatirokeh

BREBESNEWS.co -Buku kisah Kiai Kampung asal Jatirokeh Kecamatan Songgom, KH Ahmad Tarsyudi, bertajuk ‘Damar Peradaban’ di bedah.

Buku, karya Mohammad Andi Hakim SPd MHum ini di bedah langsung oleh mantan anggota DPR RI H Nasrudin dalam rangkaian Khaul ke-28  KH Ahmad Tarsyudi, di pondok pesanteren modern Al Falah, Rabu malam (10/5/2017).

Diceritakan Nsrudin, sosok Abah Tarsyudi adalah pribadi yang sabar, qonaah, menjaga terhadap hal-hal yang haram. Beliau menolak pemberian tanah rampasan oleh Belanda karena baginya sangat haram.

“Lebih baik lapar ketimbang memakan yang haram. Tidak pernah pendendam, pembenci meskipun dirinya di dzolimi,” kata Haji Nasrudin.

“Salah satu hal yang luar biasa adalah, keseimbangan antara kekuatan batin, wawasan kebangsaaan, dan konsep pendidikan menyatu dalam dirinya dan termanifestasikan dalam hidup dan lakunya,” lanjut mantan Ketua DPRD Kabupaten Brebes ini.

Yang terhebat, kata Nasrudin, KH Ahmad Tarsyudi memiliki empat orang anak yang kini masing-masing memiliki pondok pesantren.

“Beliau tidak gila harta, tapi gila ilmu, mangkanya anak-anaknya lebih suka mendirikan ponpes dari pada perusahaan,” tandas Nasrudin.

Ponpes yang didirikan anak-anak Kiai Tarsyudi, antaranya yakni Ponpes Al Falah Sofwaniyah oleh KH Sofwan Tarsyudi, Al Falah Salafi oleh KH Mas Mansyur Tarsyud, Pondok Modern Al oleh KH Nasrudin, ketiganya berada di Jatirokeh Kecamatan Songgom dan KH Ayatullah mendirikan pesantren Al Quran Gumawang Pekalongan.

Bukan buku biografi

Menurut penulisnya, buku setebal 175 halaman ini bukanlah biografi namun hanya nukilan sejarah KH Ahmad Tarsyudi.

Hal tersebut karena penulis tidak mendapatkan penuturan secara langsung dari Sang Damar Peradaban sehingga tidak disebut sebagai biografi.

Buku tersebut menggambarkan keteladanan dan pribadi Kiai Kampung yang disebutkan sebagai manusia langka di dunia.

Karena dalam dirinya, ber-Islam tidak hanya dalam bentuk tutur kata tetapi lebih dari itu. Tampak begitu memancar bagai damar (lampu) yang begitu memancar dalam hati, piker, dan perilaku kesehariannya.

“Mbah Tarsyudi, benar-benar balik desa mbangun desa. Karena dari petualangannya mencari ilmu dari berbagai pesantren kemudian pulang menumpahkan ilmunya untuk mendidik masyarakat Jatirokeh dari ‘jahiliyah’ menjadi ‘ilmiah’,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut sebagai pembanding Moh Iqbal Tanjung SSos MA dan peserta bedah buku yang aktif mendapatkan doorprice satu buah buku Damar Peradaban secara gratis. (ILMIE)

Posted in: Serba Serbi